Bincang-Bincang LPDP #1: Seleksi LPDP

Assalamu’alaykum. Halo, semua! Semoga selalu sejahtera ya. Aamiin.

Oke, di blog kali ini saya mau share sedikiit aja (kita liat sedikitnya segimana ya wkwkw), tentang pengalaman saya saat apply beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kementerian Keuangan RI. Beasiswa ini lagi ngehits-ngehitsnya di Indonesia. Salah satunya karena banyaknya pilihan universitas yang bisa dipilih, tidak dibatasinya universitas asal peserta seleksi, banyaknya kuota yang tersedia, dan komponen biaya yang lengkap (dan cukup besar) dibanding beberapa beasiswa lain (tapi, mulai dari 7 Maret 2017, ada beberapa komponen biaya yang dihilangkan).

Sebagai pengantar, saya mengikuti seleksi LPDP Batch 4 2016. Batch seleksi yang katanya paling ‘menyeramkan’ karena di sini, kuota 2016 dipangkas jadi minimalis. Yang biasanya penerimanya ribuan, batch 4 ini hanya sekitar 500-700 orang 😦 (dan saya baru tahu ini setelah lulus. Alhamdulillah, Alhamdulillah).
Waktu itu, saya dapat jadwal seleksi substansi (Alhamdulillah lagiii) langsung selesai di 1 hari, yaitu di tanggal 16 November 2016. Lokasi tes saya di STAN, Bintaro, Jakarta. Saya pilih Jakarta karena paling dekat dengan domisili saya, Serang. Seleksi diawali dengan verifikasi dokumen (menunjukkan dokumen-dokumen asli yang diupload saat pendaftaran), lalu wawancara, EOTS (essay on the spot), dan terakhir LGD (Leaderless Group Discussion). Selesai tes pas waktu maghrib. Alhamdulillah :”) lelah, tapi lega juga. Walaupuuun firasat saya saat itu mengatakan, duh kayaknya gak akan lolos…..

Yaudah, kita mulai dulu ya.. Semoga bermanfaat. (Oya, kalau untuk teknis, mungkin gak akan banyak saya bahas, karena sudah banyak banget awardee yang bahas baik di blog ataupun di Youtube, kayak Tasya Kamila (bagus ini, beneran). Tapi kalau ada yang ingin ditanyakan boleh tanya via PM atau komen. Anyway, bagi para pemburu beasiswa ini, jangan malas cari-cari referensi dari sumber lain yap 🙂 Semangat!).

*ceritanya ini blognya flashback….. >>>>
*************************************************************************************

STAN, 16 November 2016. Meja 03. (Semua percakapan asli dalam Bahasa Inggris).

“Wageningen University itu terkenal dengan bidang pertaniannya ya. Kenapa kamu malah ambil  Nutrition and Health di sana?”, tanya bapak berkacamata di sebelah kiri.

“Banyak peserta yang ingin pergi ke Belanda. Tapi gini ya, biaya kuliah kamu di belanda, walaupun lebih murah dari beberapa negara lain, tapi ya.. tetap saja mahal ya.. Nah biaya kuliah kamu itu bisa untuk membiayai sekian (*saya lupa) orang di dalam negeri. Jadi kami harus benar-benar memastikan bahwa kamu punya alasan kuat untuk sekolah di sana. So, apa alasan kamu?”, selang beberapa menit kemudian, ibu psikolog di sebelah kanan menanyakan hal serupa namun lebih umum.

Saya langsung mengangguk dan langsung menjawab. “Betul, pak, Wageningen University itu universitas yang unggul di bidang pertanian. Tapi, berdasarkan informasi yang saya dapatkan[1], program Master Nutrition and Health (MNH)-nya merupakan program studi gizi dan kesehatan nomor 1 di Belanda. Selain itu, MNH memiliki kelompok riset yang cocok dengan rencana riset saya, yaitu untuk kelompok pasien gangguan jantung.”

“Ya, terimakasih atas pertanyaannya, Bu. Dari data yang saya dapatkan penyakit jantung menduduki tiga pembunuh terbesar di Indonesia[2]. Whereas, di Belanda, penyakit jantung mengalami penurunan yang signifikan dari 240 ke 130/100.000 jiwa penderita dari tahun 2000 sampai 2012[3]. Dari pengalaman negara tersebut, it will be a great chance jika Indonesia bisa belajar dari sana, how to reduce it. Kemudian, Wageningen University sendiri, memiliki program MNH dengan salah satu fokus riset untuk pasien jantung. Mereka juga sudah pernah memiliki penelitian dan program yang mirip dengan riset yang ingin saya lakukan. Selain karena ranking program dan kelompok riset yang cocok, MNH memiliki mata kuliah khas, yaitu Psychobiology and Food Choice Behaviour, di mana dalam menentukan solusi terapi nutrisi klinik, mahasiswa diajarkan tidak hanya meninjau dari sisi medis, tapi juga dari sisi ekonomi, budaya, psikologi pasien dan sosial agar penanganan menjadi lebih tepat. Saya pikir itu akan menjadi ilmu yang luar biasa untuk mendukung usaha pencegahan dan promosi kesehatan yang juga sedang direncanakan KEMENKES Indonesia.”

“Oke, sebentar, satu pertanyaan lagi dari saya..”, ujar pewawancara tengah, Ibu–yang sepertinya–dosen di bidang kesehatan. “Kenapa kamu berubah fokus dari jurusan S1 ke S2 kamu?”. Sambil tarik napas, saya menjawab, “Berdasarkan apa yang saya pelajari di salah satu mata kuliah S1, farmakoterapi, bahwa pengobatan akan efektif bila terapi farmakologi (dengan obat kimia) dan non-farmakologi (tanpa obat) bisa seimbang. Di Indonesia masih banyak yang lebih fokus ke terapi farmakologi saja. Walhasil, peningkatan kualitas hidup pasien belum bisa tercapai dengan baik. Untuk itulah saya ingin mempelajari lebih lanjut tentang aplikasi dan efektivitas terapi non-farmakologi, khususnya nutrition sebagai terapi pendukung ataupun pencegahan, dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi ini akan memberikan efek yang baik dan berjangka waktu lama.”

Ketiga pewawancara hanya menyimak sambil mengerutkan kening, dan tidak menawarkan untuk pindah negara atau universitas seperti yang sering diceritakan oleh beberapa awardee. Entah pertanda baik atau buruk, tapi mari bersyukur dan berprasangka baik saja pada ketentuan-Nya.

(Nb: Itu beberapa pertanyaan inti seputar akademik selama wawancara. Sisanya, saya sempat ditanya tentang:
~pekerjaan saat ini;
~pengalaman ke luar negeri (alhamdulillah sempat student exchange dan konferensi);
~rencana menikah, terus kalau kamu diajak nikah di luar negeri kumaha (wkwk intinya sih ini pewawancaranya khawatir saya bakal balik ke Indonesia gak);
~pendapat tentang Aksi 4 November (saya kaget banget dong ditanya ini, dipikir keluarnya di LGD aja gitu) dan bagaimana saya jelasin kalau teman-teman internasional nanya soal itu –> jawaban saya mengacu ke jawaban Aa Gym di ILC Aksi 4/11. Dan pewawancaranya hanya bilang, “that’s good. For me.”*yang entah maksudnya apa wkwk. Terus saya jawab, “Thank you”, sambil senyum.
~unique selling point saya dibanding teman-teman internasional di Belanda sana nanti, apalagi saya belum pernah bekerja tetap;
~pernah ikut atau ngadain kegiatan yang menumbuhkan/meningkatkan nasionalisme atau gak;
~bagaimana saya dapat LoA (lewat admission team, profesor atau agen? Saya diminta menunjukkan LoA juga); dan ..
~penjelasan umum mengenai rencana riset….*di sini agak failed sih, karena Ibu dosen nanyanya agak rinci sampe nanya kelompok senyawa kimianya apa guys, coba bayangkan…………………………….. dan ya saya jawab jujur aja gatau wkwk. Daku belum *alias lupa* nyari bu..ampun….. Tapi setelah mereka tahu bahwa sistem kuliah di WUR (Wageningen University and Research) ini beda sama di jepang-korea (yang kudu siapin proposal riset luengkap dulu), baru mereka ngeh dan gak nanya2 lagi soal riset (alhamdulillah Ya Allah, huhu…..)

**

Sekitar 3-5 tahun yang lalu, saya hanyalah seorang mahasiswi biasa di kampus gajah, Bandung. Saya bukan anak himpunan yang nge-hitz, bukan mahasiswi terkenal di kalangan dosen, bukan aktifis BEM yang populer (karena saya aktifnya di unit mahasiswa luar kampus, hehe). Oh iya ketinggalan, bukan juga mahasiswi ber-IPK cumlaude atau segudang prestasi juara se-kota, propinsi dan nasional yang suka diraih oleh beberapa teman di jurusan. Jadi.. perkenalkanlah, saya Aliya, alumni Farmasi Klinik ITB dengan IPK lulus dan IELTS yang nge-pas (pas banget sama batas syarat LPDP, ehe). Mungkin karena saking nge-pasnya, pewawancara LPDP sampai bertanya. “IELTS-nya pas sekali, ya?”, dan “Susah banget gitu ya kuliah di kampusmu? Itu kamu segitu termasuk paling tinggi di kelas, menengah, atau paling bawah?”. Sambil dag-dig-dug negative thinking takut pertanda buruk untuk hasil LPDP, saya tetap tegar menjawab. Whatever happens, the show must go on, guys! Libas saja, udah terlanjur! Wkwk.

Dari cerita di atas sebenarnya yang ingin saya bagikan di sini adalah.. perasaan saya. Ya, bisa terbayangkan, bagaimana perasaan seseorang dengan karir akademik S1 yang nge-pas, berada di antara mahasiswa cemerlang di kampus gajah, tiba-tiba berani mendaftar S2 di kampus yang termasuk tiga besar universitas terbaik di Belanda[4], dan berani pula daftar beasiswa LPDP, yang terkenal sulit ditembus. Salah satu asisten dosen dan teman saya dengan IPK tinggi saja tidak lulus. Lah saya ini apa? Jujur, saya hampir berasa gak punya muka saat mau minta rekomendasi. Sudah IPK nge-pas, gak terlalu dikenal dosen, di kelas suka tidur (udah tobat (aamiin), jangan dicontoh ya), juara gak pernah. Haduuuhh. Saya hanya berani minta ke dosen pembimbing utama saya yang friendly banget. Tapi sayangnya beliau menolak membuatkan surat rekomendasi karena suatu alasan. Dengan sejuta kekuatan untuk mendobrak rasa minder (eaa), Alhamdulillah saya berhasil minta surat rekomendasi ke Ibu ketua program studi saya, dan.. lulus :”) (Terimakasih ibu kece nan baik..)

Pengalaman adalah guru terbaik. Atas pengalaman studi S1 itulah saya berani memutuskan untuk mencari beasiswa S2. Selain karena ingin “balas dendam positif” terhadap kekurangan-kekurangan saat S1, juga ada motivasi lain. Ketika S1, saya sempat gamang apakah saya sudah tepat berada di jurusan saya. Kegamangan muncul mungkin karena saya lebih ‘asyik’ aktif di unit mahasiswa daripada perkuliahan. Walhasil IP sempat turun dari semester ke semester. Namun satu yang saya yakini adalah bahwa everything happens for a reason. Dulu Allah kasih saya masuk farmasi ITB pasti ada maksudnya, gak mungkin salah alamat. So, saya perkuat keyakinan, saya eksplor kembali jurusan saya sambil tetap berusaha menyeimbangkan antara kuliah dan unit. Alhamdulillah, di tingkat tiga saya mendapatkan ketertarikan pada salah satu topik, yaitu terapi non-farmakologi. Inilah yang kemudian membuat saya yakin bahwa jurusan ini sangat tepat bagi saya, serta yakin untuk melanjutkan S2, mendalami terapi non-farmakologi. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Alhamdulillah, IP saya mulai naik perlahan. Yang saya sangat syukuri adalah kenaikan tersebut ada pada mata kuliah-mata kuliah inti, yang nantinya juga akan berguna di studi magister. Dan, peningkatan indeks itu tidak hanya sekedar naik angka atau berubah huruf, tapi juga diiringi peningkatan pemahaman atas ilmu yang saya pelajari. Itulah yang terpenting.

Lalu bagaimana dengan segala reputasi dan hasil IPK akhir yang pas-pasan itu? Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, itu membuat saya minder dan kurang percaya diri. Walaupun, alhamdulillah secara pengalaman organisasi saya gak minder. Satu dukungan motivasi yang sangat berkesan buat saya adalah, ucapan Ibu saya yang selalu menekankan, “Kita cuma bisa mencoba. Hasilnya cuma Allah yang menentukan. Gak ada yang tahu kan siapa yang akan dapat..”. Ditambah keyakinan diri, bahwa semua orang, mau pintar, mau enggak, mau nilai bagus, mau enggak, punya hak yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi. IPK hanya salah satu syarat (hehe). Itu pula yang saya kagumi dari sistem pendidikan tinggi di Eropa dan UK (terutama sistem pendaftaran). Kalau diperhatikan, umumnya mekanisme dan syarat pendaftaran universitas di Eropa cenderung lebih mudah dan tidak ‘merepotkan’, dibanding universitas di Asia. Saya pun pernah membaca bahwa mereka memang berusaha memudahkan mahasiswa-mahasiswa untuk belajar ke jenjang lebih tinggi. Salut!

Saya mencoba beberapa beasiswa S2 selain LPDP yang Alhamdulillah, Allah belum kasih kesempatan lulus. Sebut saja KGSP (Beasiswa Pemerintah Korea) via Dongguk University; StuNED untuk universitas yang sama-Wageningen-; dan terakhir beasiswa Monbukagakusho Research Student (Alhamdulillah saya lolos seleksi dokumen, yang sangaaat sangaaaat gak nyangka karena segala keterbatasan akademik saya itu. Entah mungkin penyeleksinya rada tertarik sama rencana riset saya kah? hmm, ndak tau juga. Tapi karena tanggal tes tertulisnya bertepatan sama umroh, jadi dengan terpaksa (tapi akhirnya ikhlas juga hehe) saya mengundurkan diri dari Monbu—-alhamdulillah diganti LPDP :”) #kekuatandoaumroh).

Well… sampai akhirnya waktu pendaftaran LPDP mendekat. Jarak waktu yang cukup lama dengan kelulusan S1 membuat kepercayaan diri saya naik turun *ditambah lagi dengan kegalauan seperti yang saya ceritakan di Bicara soal Wanita – Galau masa depan(?) (Part 1) #girlstalk #promosiblog. So….. saya mencari kembali suntikan motivasi dari orang sekitar. Kalau kata teman saya yang sudah jadi awardee, “Coba saja Al. Daftar LPDP itu tentang menantang diri sendiri.” Begitu juga kata kenalan awardee LPDP yang sudah di Wageningen, “Selagi masih muda, coba saja terus beasiswanya. Kalau Allah kasih, artinya kamu sanggup. Kalau enggak, berarti memang bukan yang terbaik atau kamu belum siap.” Bismillah, berbekal tawakal, dorongan dan keyakinan diri, saya lanjut daftar BPI Magister Luar Negeri LPDP. Modal saya saat itu hanya BERANI MENCOBA, banyak doa, banyak berbuat baik dan.. LoA Unconditional (bukan sebagai faktor kelulusan, tapi setidaknya bisa ‘sedikit mengabaikan’ IPK dan IELTS saya yang nge-pas, hehehe–walaupun akhirnya ditanya juga sama pewawancara(-_-)–). (Pengalaman organisasi, konferensi, dll tentu jadi modal juga, tapi secara psikologis hal-hal di atas seakan jadi lebih utama untuk kasus saya saat itu).

**

Akhir cerita, mari kita berbagi hikmah. Sebelum yakin akan lanjut S2, temukan dulu “why” atau landasan kuat yang berasal dari diri kita sendiri. We have to be ourself. Temukan jurusan yang paling sesuai (saya menemukan MNH WUR pertama kali di Dutch Education Expo, lalu saya eksplor website-nya). Cermati requirements, dan… kerjakan! Kalahkan segala minder dengan yakin terhadap sisi positif yang telah Allah anugerahkan. Sadari kelemahan kita, tapi cari dan syukuri juga kelebihan kita. Jika saya mungkin banyak kelemahan di karir akademik S1, alhamdulillah, di sisi organisasi ditambah pengalaman exchange, in syaa Allah saya ada kelebihan sedikit. Jadikan itu kekuatan kita. Untuk sisi kelemahan, ceritakanlah sisi positif atau hikmah dari kelemahan tersebut (saya masukkan di essay) dan strategi kita untuk mengatasinya. Yakinkan para penilai bahwa semua pengalaman kita tersebutlah yang menjadi motivasi untuk menjadi lebih baik. Jika sudah melewati fase seleksi, hindari terlalu PD, atau terlalu minder 🙂 (THIS IS VERY VERY IMPORTANT). Yakin saja, jika memang LPDP baik untukmu, Tuhan pasti kasih. Jika bukan yang terbaik, Tuhan akan kasih yang lebih baik dari LPDP. Tetap berdoa dan perbanyak berbuat baik tanpa pamrih, in syaa Allah membantu.

Jadi diri sendiri itu penting. Jadi pribadi yang bersyukur itu lebih penting. Always try to see beyond the eyes. See with your vision, see with your belief in your God. Good Luck! Mohon doa agar saya selalu bersyukur, serta pulang dengan membawa manfaat lebih besar untuk sekitar. See you on top!

P.s: oya, jangan lupa, cari kontak kakak kakak kelas yang sudah lebih dulu di universitas tujuan kita. daaaan tanya-tanya sama mereka. Saya alhamdulillah dapat beberapa kenalan, salah duanya adalah teh Eka dan Kak Husein, yaaang.. baek baek banget :”) makasih banyak kakak-kakak ^^. See you in Wageningen, in syaa Allah! 

****

[1] MNH mendapat Top Rated Programme 2016 by Wageningen Keuzegids Masters.

[2] 1) Global Burden of Disease, 2010 and Health Sector Review (2014), dalam file presentasi “Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat”, dibawakan oleh Menkes RI, di Denpasar, Februari 2015. Penyakit jantung tahun 1990 berada di urutan 13, tahun 2015 naik ke urutan 3; 2) WHO – Noncommunicable Diseases (NCD) Country Profiles, 2014 – Indonesia (Jumlah penderita penyakit jantung kurang lebih stagnan dan belum stabil selama tahun 2000-2012).

[3] WHO – Noncommunicable Diseases (NCD) Country Profiles, 2014 – Netherland.

[4] Times Higher Education Rank for University in Netherland for 2017.

Advertisements

3 thoughts on “Bincang-Bincang LPDP #1: Seleksi LPDP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s