Bicara soal Wanita – Galau masa depan(?) (Part 2) #girlstalk

(….Part #1….)

Seneng, alhamdulillah, tapi jadi makin galau lagi.. duuuh, pie iki paska studinya. Dipengaruhi juga dengan pikiran, “ah orang kayak saya apa kuat dan bisa ya di masa depan jadi perempuan dengan dua peran di dalam dan luar rumah? Ngatur waktunya kan susah.. lah saya aja masih banyakan waktu mainnya ini..hehe (dan masih suka gak produktif).” Sampai titik ini, saya tetap berusaha berpikir positif dan menguatkan diri, bahwa.. in syaa Allah kata Allah saya mampu. Apapun yang terjadi di depan sana, segala amanah dan konsekuensi dari LPDP ini, berarti saya mampu melakukannya. Pikiran itu akhirnya makin dikuatkan dengan.. obrolan saya dengan salah seorang sahabat yang saya kenal di KARISMA ITB. Beliau banyak bercerita tentang bagaimana dunia itu butuh sosok-sosok “orang baik” di masa depan, di posisi-posisi penting/pembuat keputusan, serta cerita seorang temannya, seorang ibu yang bekerja penuh di sebuah Bank Syariah, namun kehadiran dan masakannya selalu dirindu oleh suami dan anak-anaknya. Bagaimana strategi manajemen rumah tangga yang dibuatnya bisa berjalan baik sehingga kerinduan keluarga itu selalu ada. Ah, keren sih, menurut saya. Semua Itu kemudian makin didukung dengan pembicaraan-pembicaraan di program PK (Persiapan keberangkatan) LPDP angkatan 103 (yeaay, love you guys!) tentang rencana masa depan.

Oke…. jadi, hingga saat ini, saya terus meyakinkan dan menguatkan diri saya… bahwasanya… setiap manusia akan punya PERAN masing-masing. Ada yang menjadi direktur, ada yang menjadi pengajar, untuk perempuan, ada yang memang harus menjadi ibu rumah tangga (misal karena kondisi anak-anaknya membutuhkan itu banget, referensi: blog saya yang ini –> (Re-Blog) IBU, BERKARYA UNTUK MASYARAKAT MELALUI RUMAH, KARIR, DAN BISNIS (1)), ada yang harus menjadi ibu bekerja (karena kebutuhan masyarakat atau umat), ada yang harus jadi… berjuta peran lainnya. Dan yakinlah semua pembagian peran itu pasti sudah Allah sesuaikan dengan kemampuan diri kita. Karena Ia tidak akan membebani kita di luar kesanggupan kita :”). So, untuk semua perempuan.. bersyukurlah. Allah memang telah mengaruniai kita perasaan, skill, dan pemikiran yang istimewa (laki-laki gak punya). Yang dengan segala anugerah tersebut, kita dipercayai untuk mengambil peran sebagai ibu dan istri. Yang dengan segala karunia itu pula, beberapa dari kita dikuatkan dan dipercayai untuk turut andil berperan besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan umat. Saya selalu mendoakan agar semogaaa semua perempuan di dunia itu senantiasa dikuatkan lahir batinnya, untuk menunaikan segala peranan fitrah (yang gak bisa kita tolak; istri dan ibu/madrasah pertama anak-anak) dan kewajiban lain di luar itu. Semoga kita juga didampingi oleh lelaki beriman (sesuai agama masing-masing) yang paham, menyayangi dan selalu mendukung satu sama lain, demi tercapainya visi misi keluarga #asik #yagitudeh.

Saya pribadi, in syaa Allah udah mulai siap menerima apapun peran masa depan yang Allah titipkan untuk saya. Terkait pilihan peran seorang ibu, saya tetap “keukeuh” ingin jadi seorang “full-time mother”, namun bukan saklek dalam artian ibu yang di rumah terus, tapi ibu yang bisa selalu ada atau dekat secara hati dan tindakan untuk anak-anaknya. Yang bikin anak nyaman dan kangen terus, yang gak malah bikin anak menjauh atau ogah curhat sama si ibu atau bapak (karena pada kenyataannya banyak anak dari ibu rumah tangga, yang justru malah ogah ngobrol sama ibunya, atau menghindari rumah, kan sedihhh huhu). Harapannya kalau bisa sambil kerja keliling kota (misalkan) pun saya pingin bawa anak atau setidaknya tetap bisa jalin kontak secara dekat 😀 (Mungkin akan sulit dan berat ya hahaha *secara belum ngalamin gitu loh*, tapi ya namanya juga harapan, in syaa Allah ada kemauan pasti ada jalan :D).

Saya pun setuju dengan usulan/saran yang direkomendasikan oleh pembina gerakan SEMAI 2045, yaitu Ibu Elly Risman, S. Psi, direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, yaitu jika suami-istri sudah memiliki anak, di usia 0-7 tahun, harus ada 1 orangtua yang berkorban untuk stay menemani sang anak (kalau nyontoh Bu Elly atau Bu Septi (googling ya kalau gak tahu), jika anak masih kecil, dan mereka harus ngisi training atau seminar, mereka selalu bawa anaknya itu). Kenapa 0-7 tahun? Karena di usia itulah, terdapat golden age dimana kita dapat memasukkan dan menanamkan nilai-nilai akidah dan pendidikan karakter dasar yang amaat penting. Yang akan dibawa sampai ia remaja dan seterusnya. Kalau di sini gagal, ke depannya mungkin akan agak sulit dalam mendidik. Well, I don’t know whether I can accomplish it or not. Sekali lagi, “stay” di sini bisa saja bareng terus, gak harus di rumah terus (aamiin gitu ya). But, again, whatever challenges I will face in the future, I’m sure Allah with me. As long as I have a good intention in doing A, B, or C, Allah will show me the way. Aamiin.

Oke.. Harapan saya berbagi cerita tentang ini adalah… mudah-mudahan bisa jadi inspirasi dan tambahan wawasan untuk perempuan-perempuan yang sama-sama sedang ingin merencanakan kehidupan masa depan (terutama paska menikah). Nantinya, kita sendiri yang harus peka sama tanda-tanda dan sinyal-sinyal dari Allah. Tanda/sinyal harus jadi Ibu yang mengambil peran seperti apa di masa depan? (Seperti halnya ibu yang dikaruniai 3 anak special needs yang pada akhirnya ikhlas berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sekaligus guru homeschooling untuk anak-anaknya langsung–> (Re-Blog) IBU, BERKARYA UNTUK MASYARAKAT MELALUI RUMAH, KARIR, DAN BISNIS (1)). Supaya kita gak kelewat bablas terlalu ambis sama ambisi karir diri sendiri hehe. Apa yang saya bagikan di sini in syaa Allah sudah berdasarkan (sedikiiit) ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari buku-buku, seminar dan tokoh ibuk ibuk kece yang pernah saya temui. Karena sedikit jadi masih sangat bisa untuk dilengkapi hehe.

Pasti banyak kekurangan di tulisan ini. So, please feel free to correct me if I’m wrong hehe. Atau mau saling dukung dan kasih semangat? Hahaha. Ok, sampai ketemu di blog selanjutnyaaa 🙂 Semoga bermanfaat ya, curhatan panjang ini.

Wassalamu’alaykum wr. Wb.!

Nb: Tambahan sebuah capture-an status teh Dery Hefimaputri. A nice reminder for all muslimah about our role as wife and mother. Semoga kita tidak lupa kewajiban utama tersebut 🙂 Aamiin.
blog wanita

*Sumber featured image: http://terminal4.candi.ac.uk/media/IMG_6746edit.jpg (google)

Advertisements

7 thoughts on “Bicara soal Wanita – Galau masa depan(?) (Part 2) #girlstalk

  1. Dear Aliya,

    Kegalauan kamu sebelum apply LPDP itu hampir persis sama kegalauan aku. Segala macem dipikirin, nanti kalau kelar sekolah pasti harus ngabdi, ngabdi artinya kerja, kerja artinya nanti ga jadi ibu yang ngawasin anaknya di rumah dan ready saat suami akan berangkat kerja dan pulang kerja. Duluuu waktu baru lulus S1 niatku nikah, jadi lah ga daftar2 sekolah krn berpikir spt di atas tadi, sampe Allah kasih kesempatan sekolah lewat LPDP. Waktu mau daftar juga galau krn aku khawatir nanti kalau kerja gimana rumah tanggaku. Akhirnya aku daftar LPDP dan yakin bahwa apa pun yang di depan mata, maka itu yang bisa aku perjuangkan saat ini. Dengan Kehendak Allah pula aku lulus LPDP, maka pasti Allah yang akan memampukan aku menjalankan kehidupan selanjutnya bersama LPDP. Insya Allah ini berarti Allah akan memberikan kesempatan menikah dan berrumah tangga yang sejalan dengan rencana studiku. Semangat yaa! 🙂

    1. Mungkin gegara aku dikelilingi sama orang2 dgn problem kayak gitu jadinya kepikiran hehe.
      aku masih immature juga di beberapa hal lain..wkwk.

      Thank you for reading.
      going to read yours soon..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s