Bicara soal Wanita – Galau masa depan(?) (Part 1) #girlstalk

Assalamu’alaykum.

Halo semua 🙂 Good Morning, semangat pagi, goede morgen, shobaahul khoyr!

Di postingan sebelumnya, saya ngomongin cinta, nah sekarang saya ngomongin.. perempuan! Lah ngapain ngomongin perempuan, kan penulisnya udah perempuan juga. Haha, justru itu, kadang ngomongin yang terdekat dengan diri kita juga penting. Supaya makin kenal dengan sosok tersebut. Yang pasti ini bukan tentang diri saya secara pribadi (walaupun diawali kisah yang saya alami), tapi tentang perempuan! Ya semua perempuan di dunia ini.

Motivasi menulis tentang ini sebetulnya sudah ada sejak lama, karena topik ini benar-benar sempat “mengganggu” pikiran saya beberapa bulan belakangan ini. Semakin kuat motivasinya ketika beberapa hari lalu tetiba banyak yang share bahwa hari itu adalah “International Womens Day”. Widih apaan tuh.. Ya, kabarnya sih hari untuk merayakan atau mengapresiasi peranan wanita di dunia ini, supaya tetap setara dengan laki-laki (diakui gitu loh peranan dan haknya sebagai manusia biasa). Tapi saya gak akan banyak bahas soal ini sih. Saya bukan ahlinya (dan bukan juga penggemar hari tersebut hehe *in syaa Allah Islam sudah mengatur sedemikian rupa, sehingga wanita dan laki-laki itu sudah setara dan diadili seadil-adilnya). Yaudahlah yuk, kita mulai ngomongin “perempuan”-nya itu sendiri.

Alkisah, dulu jaman kuliah S1, saya sempat membantu sebuah gerakan, namanya SEMAI 2045 (Selamatkan Generasi Emas Indonesia 2045). Gerakan ini diinisiasi oleh beberapa aktifis komunitas ITB Motherhood (komunitas perempuan lulusan ITB yang udah jadi ibuk ibuk) saat isu pelecehan seksual pada anak serta pornografi lagi marak-maraknya. Singkat cerita, ibu-ibu ini awalnya ketakutan anak2nya kena, terus bingung, tapi kemudian mereka memutuskan untuk bergerak! Ya bergerak untuk mengantisipasi dan menghindari terjadinya hal-hal lebih buruk. Topik ini sebenarnya menarik banget untuk dibahas. Gak akan habis-habis deh, bisa-bisa kalau ditulisin sekarang abis berapa blog sendiri ini (teman-teman bisa googling SEMAI 2045 atau ke facebook fanpage SEMAI 2045 untuk lebih detailnya). Yang jelas ikut bantu di gerakan ini benar-benar berkesan dan nambahin banyaaak ilmu penting buat saya, terutama sebagai bekal keluarga di masa depan.

Well, dari sana, kami jadi tahu bahwa di masa depan tantangan untuk generasi-generasi emas, which is, anak-anak kecil itu BESAR BANGET. Serangan para pelaku bisnis pornografi yang menyasar generasi muda gak bisa dipungkiri lagi. Jaringannya udah internasional. Belum lagi serangan media-media yang menyasar pergaulan anak. Duh, saya yang saat itu memang sudah terpikir untuk jadi seorang full-time mother (dalam artian ibu rumah tangga) jika sudah menikah dan memiliki anak, semakin yakin bahwa saya memang harus jadi seperti itu! Supaya penjagaan untuk anak saya bisa maksimal.

Waktu terus berlanjut. Lulus S1, saya yang emang berniat serius nyari beasiswa S2, walhasil mutusin untuk ngajar-ngajar freelance aja. Nah, saya dapat kesempatan bantu ngajar di sebuah sekolah swasta. Dan…di sana guru-gurunya mayoritas adalah perempuan yang sudah punya anak. Anaknya pun masih kecil-kecil. Ditambah lagi, sekolah itu menganut sistem full day, guru tetap (maksudnya karyawan tetap bukan yang honorer) harus masuk dari jam 6.45 (mulai briefing) sampai 16.00. Kalau dapat piket sore, bisa sampai jam 17 atau 17.30. Ditambah lagiii, hari sabtu masih harus masuk 2 kali dalam sebulan. Pas lagi ada event atau sibuk-sibuk akreditasi, hari ahad juga bahkan masih masuk. Well, setelah beberapa kali saya ngobrol sama beberapa ibu guru yang beneran udah jadi ibu di sana, akhirnya saya berpikir.. kurang adil juga ya kalau misalkan tiba-tiba semua guru-guru perempuan nyang sudah menikah dan punya anak harus stop kerja! Yang ngajar biar bapak2 aja.. Kalau sistem pemerintahan dan lain-lain sudah oke oce banget sih, bisa aja tuh. Tapi kan masalahnya, kalau kita ngomongin guru di indonesia, laki-laki yang mau jadi guru itu sedikittt. Dan salah satu alasannya mungkin karena gaji yang relatif kecil dibanding pekerjaan lain seperti pekerjaan industri. Udah gaji kecil, pekerjaannya berat banget, gak cuma ngajar, tapi juga hal-hal administrasi lainnya. Ditambah lagi, perempuan dengan fitrah keibuannya juga sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Karena ada hal-hal yang tak bisa dilakukan para bapak-bapak kepada muridnya.

Dari situ, saya mulai percaya bahwa sejatinya ibu bekerja juga tidak dapat dihindari. Toh kalau melihat ke contoh zaman Nabi, juga ada kan perempuan (Ibu) yang sambil mencari nafkah, tapi juga tetap bisa mendidik dan menjaga anaknya dengan baik. Dari sini juga, saya sangat sangat kagum dan respect sama ibu-ibu beranak yang harus bekerja sebagai karyawan tetap di sebuah institusi. Apalagi kalau nyatanya anak didikannya malah lebih baik secara akhlak dan pemikiran dibanding anak-anak yang ibunya di rumah saja tapi malah jadi nakal, atau hanya bisa menghabiskan uang orangtua untuk main-main. Ibu-ibu bekerja pastinya harus memiliki kemampuan manajerial yang baik untuk mengurusi kepentingan dalam negeri dan luar negeri hehe, serta strategi rumah tangga yang harus didiskusikan bersama pak suaminya.

Tapi tetap sih, saya masih agak ragu-ragu jika di masa depan nanti saya harus “nyambi” jadi ibu pekerja full time di sebuah institusi… Kegalauan saya ditambah karena saat itu saya mau daftar beasiswa LPDP. Saya tahu mereka yang lulus LPDP, akan diminta pengabdiannya setelah pulang studi. Dan.. disinilah kegalauan saya terhadap mau jadi ibu yang seperti apa di masa depan, memuncak #jrengjreng. Sampai galau, duh lanjut daftar LPDP atau enggak ya….?, gara-gara ini.

Saya gak mau bo’ong. Gak mau, misalkan, nulis di essay LPDP, mau jadi A, mau jadi B. Tapi ternyata di masa depan saya malah gak jadi sama sekali karena saya memilih harus full di rumah. Tapi saya juga gak bisa memungkiri bahwa pengabdian setelah studi itu memang harus dilakukan sih, ibaratnya sebagai tanda terimakasih daaan pengamalan ilmu yang telah dipelajari untuk masyarakat atau umat. Itu! #gayamarioteguh. Kemudian, setelah diyakinkan oleh beberapa pihak, bahwa.. “Udah daftar dulu aja, kalau kamu dapat (LPDPnya) berarti kata Allah kamu sanggup. Kalau enggak ya berarti enggak di sini jalannya.” Udah. As simple as that, actually.

Walhasil, saya putuskan saya tetap coba ikut seleksi LPDP. Setelah berpikir panjang…saya menuliskan dua opsi bidang pekerjaan di essay, yang sekiranya–saya pikir–masih bisa saya tunaikan dengan baik bebarengan dengan penunaian kewajiban saya sebagai ibu/istri di masa depan *jika saya diterima LPDP, dan sudah menikah di masa depan. Intinya mah, keluarga tetap jadi prioritas nomor satu.. (waktu itu saya menuliskannya dosen/peneliti (dan ini belum tentu jadi dosen tetap hehe) atau pengusaha).

Sambil masih agak galau, saya jalani proses seleksi substansi LPDP. Paska tes, firasat sih mengatakan: ah, gak akan lulus nih kayaknya (gara-gara wawancara agak acakadut). Yowis, saya pun mencoba berpikir positif. Ya Allah, kalau memang ini baik untuk dunia akhirat saya, dan kata Allah SAYA MAMPU menunaikan semua amanah setelah studinya, in syaa Allah akan keterima. Tapi kalau kata Allah enggak, ya gak apa-apa, artinya saya bisa banget tuh tetep pengen jadi ibu-ibu yang stay at home with family. Sambil bisnis-bisnis apaa gitu ya.

Dan… hasilnya ternyata, sangat di luar dugaan. Alhamdulillah saya (malah) lulus LPDP.

(Nah loh, terus gimana….? Bersambung ke part #2 yaa : Talk About “Girl” – Galau masa depan(?) (Part #2))

 

Advertisements

One thought on “Bicara soal Wanita – Galau masa depan(?) (Part 1) #girlstalk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s