Bicara Cinta #2: Cara Jatuh Cinta (Talk about Love)

Kalau ditanya pernah jatuh cinta gak?

Ya pernah. Secara manusia biasa. Apalagi saya diidentifikasi tipe perempuan yang “easy lover”, mudah mencintai. Yaa dulu lebih parah sih dari sekarang. Dari satu event ke event lain bisa-bisa yang disukai ganti-ganti. Gampang cinlok. Haha.

Semakin dewasa, alias semakin tua, alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang baik yang dari mereka saya bisa belajar lebih dalam tentang bagaimana memanajemen hati. Bagaimana agar tidak mudah baper dengan laki-laki. Bagaimana agar bisa jatuh cinta dengan “setidaknya” baik dan aman, terutama untuk tipe orang seperti saya. Safety first, guys.

Beberapa kali saya jatuh cinta. Caranya mungkin hampir sama. Saya jatuh cinta dengan sosok orangnya. Ya, target dan objeknya ada. Sosok-oriented. Jelas. Konkrit. Punya nama. Misal, si Budi. Kalau saya lagi inget banget, lagi sering banget berinteraksi sama Budi, wah saya bisa kepikiran banget tuh. Level parahnya bisa sampai ngebayangin hal-hal bahagia bersamanya #asik. Well, honestly, ternyata Islam sudah mengatur hal tersebut kok. Makanya kalau jatuh cinta, dibilangnya (kalau gak salah ada haditsnya gitu), ya obat paling baik untuk orang yang jatuh cinta adalah menikah. Lah kalau belum sanggup menikah? Artinya kita diminta berhati-hati dengan yang namanya jatuh cinta. Boleh aja suka atau sayang sama seseorang, tapi kalau bellum sanggup menikah, ya atur atur lah supaya rasa cinta tersebut gak kelewatan, gak sampai ngebayang-bayangin dan melakukan hal yang gak semestinya kita lakukan atau dilarang agama yang kita yakini. (Dan menurut hemat saya, amannya juga jangan diutarakan jika memang belum akan menikahi, demi menjaga hati dan perasaan satu sama lain).

Oke, artinya… Cara saya jatuh cinta dengan mencintai si sosok lelaki itu ternyata kurang tepat buat tipe perempuan baperan seperti saya. Tipe perempuan yang sering berspekulasi, “jangan jangan dia… jangan jangan dia juga suka…jangan jangan dia….”, padahal belum tahu betul atau gaknya! Nah lo! Ada yang sama…?

Saya meniatkan mengubah cara jatuh cinta saya.. saat saya curhat (ceilah) dengan salah seorang senior saya di organisasi. She told me, “..Al, perempuan itu..amannya, kalau ada laki-laki yang mendekat, atau bikin kita ngerasa dia suka sama kita..jangan dipeduliin. Semua laki-laki, selama dia belum resmi melamar kita via orangtua, JANGAN KEGEERAN! Mereka semua gak pasti,” Itu.. (gaya mario teguh).

Kalimat itu cukup meghentak saya, dan mendekam di hati nurani lubuk jurang terdalam hati saya #apasih. Lalu, kalimatnya masih berlanjut, “Pun sebetulnya sampai tahap itu gak boleh terlalu geer atau senang, karena senang atau ge er yang sebenarnya baru akan terbukti saat akad nikah terjadi.” Wah susah juga ya. Da berarti emang udah kodratnya manusia harus selalu bersabar dan bersabar. Makanya banyak juga tuh ayat-ayat Qur’an yang memerintahkan manusia untuk…. bersabar. 🙂

Oke, itu satu poin. Dan kayaknya belum mengubah cara jatuh cinta saya ya.. masih ada sosoknya..

Berarti apa dong yang mengubah cara jatuh cinta saya? Ya sebetulnya “teori jatuh cinta biasa” yang sudah populer, namun seringkali kita lupakan. Seriiing banget. Apelagi sama si saya. Kayak apa tuh teori jatuh cinta biasa? Biasanya teori ini sering dibahas di antara orang-orang yang lagi seneng nonton video/acaranya motivator2 kehidupan, atau yang lagi belajar agama (saya juga masih sedang belajar, dan kita semua juga begitu kan..hehe). Bahwa, cara menanti jodoh yang terbaik adalah dengan… memantaskan diri! Memantaskan diri dalam artian terus istiqomah memperbaiki diri agar jodoh yang datang nanti juga jodoh yang baik, setidaknya tidak jauh dari cerminan diri kita. Gak mau kan kalau dapat jodoh yang amburadul, dikarenakan kitanya juga pribadi amburadul yang kualitas dirinya enggak progresif. Uhuy, keren amat yak kedengerannya #halah. Hm, tapi ada yang kurang rupanya.. Memantaskan diri kalau patokan perbaikan dirinya adalah seseorang juga bisa berakibat fatal, atau patah hati berkelanjutan loh… (misal, kita pingin jodoh kita-sebut saja-Aryo. Nah, terus kita perbaiki diri kita sampai jadi mirip dengan kualitasnya Aryo). Apalagi kalau ternyata jodoh kita bukan dia, tapi sosok lain yang kualitasnya juga sudah sesuai dengan kita. Nah loh.. kan repot kalau udah ngarep sama Aryo tadi..

Well, pemantasan diri ujung-ujungnya (Bagi yg Muslim) kembali ke Zat Yang Memiliki kita, Allah SWT, alias Tuhan kita. Kita memantaskan atau memperbaiki diri sesuai patokan sifat dan sikap yang diperintahkan Allah, atau dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Kenapa harus gitu, sih..? Logikanya gini, kalau kita terus memperbaiki diri agar senantiasa jadi lebih baik di mata-Nya, pasti Ia juga akan kasih jodoh terbaik untuk kita kan, karena Allahnya juga seneng sama kita soalnya kita nuruttt. Ya soalnya, di salah satu ayat Qur’an yang menyatakan bahwa ketika kita berdoa, Allah pasti akan perkenankan, setelah kalimat tersebut Allah menyebutkan syaratnya: selama kita taat pada perintah-Nya.

Nah, dengan cara ini, in syaa Allah kita gak perlu baper-baperan terlalu banyak dengan sosok tertentu. Gak harus perlu tahu atau sok-sokan punya prediksi: wah, nih cowok kayaknya bakal suami gue nih.

Eh, tapi kan.. susah ya, patokannya berat banget :”( Ya memang.. tapi siapa sih manusia yang bisa langsung sempurna. Yang pasti berubahnya kita ke arah lebih baik tersebut dilakukan secara berproses, bertahap, yang penting berkelanjutan alias istiqomah. In syaa Allah, Allah juga akan kasih jodoh yang setara dan sefrekuensi dengan perbaikan diri kita.

Well lagi, haha, dari cara jatuh cinta pertama yang sosok-oriented dan cara jatuh cinta kedua yang saya gak nargetin siapa orangnya (alias lempeng aja gitu yang penting perbaiki diri), saya pribadi merasa jauuuh lebih nyaman dan AMAN dengan cara yang kedua. Seriusssss, aman banget buat hati dan pikiran saya. Sejak saya belajar mencintai dengan cara kedua, tingkat kebaperan saya jadi berkurang, terutama tiap kali ada laki-laki yang memancarkan sinyal-sinyal cinta #ceilahgayabanget. Jadinya ya biasa aja. Pun ketika ada kabar laki-laki yang dulu pernah saya sukai (pas masih sosok-oriented) menikah misalnya. Entah kenapa, alhamdulillah, saya jadi biasa aja. Hanya, “Oh..” terus yaudah.. yang ada di pikiran saya, “Oh sip, alhamdulillah kebuka 1 rahasia Allah, bahwa dia berarti bukan jodoh saya. Yowis, cari (masih ada) yang lain..”. Menyesal sih ada, menyesal karena berarti 1 jatah lelaki sholeh (di mata saya beliau termasuk kriteria sholeh gitu) di dunia ini berarti sudah berkurang wkwk. Lalu mikir, duh masih bisa gak ya saya dapatin satuu aja ya Allah lelaki sholeh wkwk.. Ujung-ujungnya ini memotivasi saya supaya meningkatkan konsistensi perbaikan diri, alhamdulillah.

Tapi….saya akui, cara kedua ini cukup sulit dan menantang sih. Karena godaan setannya besar bangettttttttts. Saya pribadi masih suka keceletot (kepeleset) balik lagi ke cara jatuh cinta sosok-oriented, tiap kali liat laki-laki yang di mata saya kece, keren, apalagi kalau sholeh. Dan itulah manusia. Imannya naik turun. Dan itu jugalah tugas atau tantangannya manusia. Harus sering diingatkan, baik sama diri sendiri (lewat sholat, doa, belajar terus dan belajar lagi) ataupun sama orang lain. Nah, di poin “diingatkan oleh orang lain” inilah, mencari dan menjaga lingkungan pergaulan dengan teman-teman yang baik/sholeh menjadi sangaaat penting. Beneran deh gak akan nyesel kalau kita, setidaknya, punya 1 kelompok teman yang isinya teman-teman baik, yang suka mengingatkan kita soal agama atau akhirat. Terimakasih banyak untuk teman-temanku yang seperti ini :”) kamulah salah satu penguatku di zaman yang sudah lebih wedan ini..akhir jaman cuy….

Jadiii… ya begitulah. Sampai detik ini, saya masih terus BERJUAAAANG agar konsisten atau istiqomah bisa jatuh cinta dengan cara yang kedua. Doakan saya ya:) Semoga makin hari makin menang dari godaan-godaan para lelaki kece yang belum tentu berjodoh haha. Saya pernah berharap, semoga pas saya mau menikah nanti, gak perlu lah proses lama-lama. Mudah-mudahan cepat klik, dan disegerakan, supaya gak bikin baper haha. Yoi gak? #sokasikbangetlu.

Oke, sampai ketemu di blog selanjutnya 🙂 Semoga bermanfaat ya. Wassalamu’alaykum.

sumber featured image: https://kissda.files.wordpress.com/2016/10/dua-tangan-satu-love.jpg

Advertisements

One thought on “Bicara Cinta #2: Cara Jatuh Cinta (Talk about Love)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s