#OneStudentOneStory P.1: Nirmala, dan Segudang Ceritanya

One Student One Story #First edition

Nirmala, dan Segudang Ceritanya

Assalamu’alaykum! Akhirnya…, setelah sekian lama vakum menulis, beberapa hari belakangan ini saya menguatkan niat untuk menulis kembali. Terinspirasi dari salah seorang muridku, yang entah kenapa mendorongku begitu kuat untuk menuliskan dan membagikan pesan atau pembelajarannya. Dari sana, akhirnya muncullah ide ini, yaitu, membuat blog seri #OneStudentOneStory, di mana isinya akan bercerita tentang pengalaman dengan salah seorang murid yang kutemui, plus hikmah dan pembelajaran yang saya dapatkan darinya. Yap, semoga benar-benar bukan hanya menjadi sekedar tulisan “curhat”, tapi bisa menjadi inspirasi dan pengingat bagiku, dan bagi teman-teman semua 😀 mohon maaf kalau banyak salah ya.. dan doakan mudah-mudahan saya bisa istiqomah dengan merutinkan kegiatan menulis #OneStudentOneStory ini, hehe. Terimakasih 😀

***

#latepost #sharing #homeschooling

1 Februari. Hari pertama di bulan baru yang berarti rencana-rencana yang sempat tertunda akan mulai dijalankan kembali, in syaa Allah.

1 Februari juga, hari pertama mengajar murid homeschooling dari lembaga homeschooling milik salah satu bimbingan belajar pionir di Indonesia.

Pertama liat anaknya, ohh anaknya cantik, putih, secara fisik terawat, modis tapi bergaya tomboy, enerjik, dan.. sepertinya tipe anak-anak gaul.. Saking semangatnya, begitu masuk anak ini sampai menabrak pintu kaca di depannya. Untungnya si anak cuma ketawa aja, hehe.

Pertama ketemu, kami hanya saling melempar senyum di front office. Bersamaan dengan melenggangnya sang anak ke dalam kelas, saya pun langsung dipersilakan Bu Kepsek untuk mengikuti langkah sang anak masuk ke kelas. Langsung saja saya ikuti langkah sang anak yang berjalan setengah berlari dengan riangnya. Pas masuk kelas, dia melihat saya sebentar, dan saya langsung aja bertanya, “N*****, ya?” (Memanggil nama, kita sebut saja Nirmala ya he he).Nirmala langsung mengiyakan. Pastinya (dan seharusnya) Nirmala sudah tau bahwa hari ini guru fisikanya digantikan olehku. Dan memang, tidak tampak wajah heran di wajahnya begitu melihat saya.

Begitu pintu kelas ditutup dan tinggal kami berdua di ruangan, langsung kumulai dengan bertanya ala ala kenalan, “dari sekolah mana?”, “kenapa mau homeschooling?”. Kupikir Nirmala hanya akan menjawab sekedarnya alias singkat, padat dan jelas, sesuai apa yang ditanya. Daaaann gak disangka, teeernyata Nirmala malah langsung bercerita panjang x lebar x tinggi tentang kisah di sekolahnya dulu. Ia bercerita dengan ceria plus penuh semangat! Wkwk.
Saya–bisa dibilang–‘cengo’ dalam hati (yakali saya tunjukkin langsung mah, wkwk). Kaget dan bener-bener gak sangka. Ya, untuk ukuran dua orang yang baru ketemu pertama kali, belum banyak ngobrol, dan statusnya pengajar-murid (yang kemudian saya baru ngeh kalau di sini pengajar dipanggilnya “kak” seperti teman, beda dengan sekolah swasta tempat saya mengajar honorer, dimana saya dipanggil “Ibu” :D, Alhamdulillah jadi bisa lebih cair), anak ini begitu terbuka, gak malu-malu dan LANGSUNG cerita begitu banyak, begitu detail (saya bilang detail karena Nirmala sampai menyebutkan nama orang-orang yg diceritakannya–padahal saya yakin dia-pun yakin saya belum tentu mengenal orang-orang itu–, dan detail posisi tempat latar ceritanya).

(*satu hal lain yang saya dapatkan di sini dari sosok Nirmala adalah, bahwa ia sedikit mirip denganku saat bercerita hehe. Saya pun begitu kalau cerita, kadang suka terlalu detail sampai-sampai Ibuku bilang, kalau cerita jangan terlalu detail nanti kalau gak fokus dengernya, orang-orang bisa pusing, “ni orang sebenarnya cerita apa ya…..?”)

Saya berusaha menyimak apa yang diceritakannya, merespon cerita dan gesture Nirmala dengan sesemangat mungkin, dan berusaha menikmati apa yang sedang kita lakukan di pertemuan pertama ini. Sejujurnya, saya sempat berpikir, duh, ini udah abis berapa menit ya.. Pasalnya, satu pertemuan hanya dihitung satu setengah jam. Saya hanya khawatir, bisa-bisa hari ini sama sekali tidak ada pelajaran, malah full cerita. Kekhawatiran saya berdasar ke tanggungjawab saya sebagai pengajar di sana (baru pertama masuk pula haha), Namun, saya yakinkan diri saya untuk tidak perlu melihat jam (di dalam kelas juga tidak ada jam dinding) di HP, dan tetap berfokus pada Nirmala dan ceritanya. Saya terus menyimak sambil meyakinkan diri bahwa justru ini peluang yang bagus untuk membentuk chemistry awal antara saya dan murid homeschooling pertama saya ini. Saya ingin membuat Nirmala nyaman dulu, setelah itu in syaa Allah semua akan lebih lancar ke belakangnya. Dan harapanku pula, kegiatan mengajar diajar ini tidak berlangsung “kaku” dan hanya sebagai formalitas belajar pelajaran eksak di sekolah. Saya ingin murid pun bisa enjoy dengan suasananya, sehingga belajar pun jadi lebih menyenangkan. Akhirnya, berbekal keyakinan-keyakinan dan harapan tersebut, saya terus mempersilakan Nirmala bercerita, dan akan mengajaknya mulai belajar di waktu yang tepat. Saya yakin, in syaa Allah jikalaupun hari itu hanya belajar sedikit, tapi materinya bisa masuk ke otak Nirmala dengan baik, karena mood-nya pun sedang baik. Dan itu lebih baik daripada belajar banyaak tapi sedikit yang masuk ke otak, bukan? 🙂

(*oh iya, ada hal lain yang saya ingat terkait Nirmala ini: saya teringat dengan materi NLP yang pernah saya dapatkan dari guru saya, kang Surya Kresnanda, yaitu teknik Pacing-Leading. Di mana kita “mengiyakan” dulu apa mau si lawan bicara kita baru kita “meminta”nya melakukan sesuatu yang kita mau. Atau kalau di seven habits, ada juga yang berhubungan: seek to understand, then to be understood. Pahami dulu lawan bicara kita/orang lain, baru kita berhak untuk dipahami. Saya mengambil makna paham di sini sebagai mengiyakan dulu apa mau nya orang lain, baru kita minta bagian kita ke orang lain tersebut. Dan..jika kita mau menelisik lebih dalam lagi, jauh sebelum teori-teori tersebut muncul, Nabi Muhammad SAW pun telah mengajarkan bukan, bagaimana teknik (adab) mendegarkan yang baik itu (bisa dilihat di blog saya sebelum2nya: https://aliyazahira.wordpress.com/2014/02/25/belajar-bersabar-belajar-mendengar-belajar-menyimak/), di mana jika ada orang lain berbicara pada kita, dengarkanlah dulu sampai selesai, jangan dipotong. Baru jika benar-benar sudah selesai, kita bicara atau berikan tanggapan kita. In syaa Allah selama kita mendengarkan tersebut, kita bukan menjadi pendengar pasif yang hanya mendengar, tapi pendengar aktif yang sambil mendengar kita bisa menyimak dan memahami lebih dalam apa maksud perkataan-perkataan pembicara dan bagaimana kira-kira sifat atau karakter orang tersebut. Sehingga ketika kita bicara nantinya, in syaa Allah kita bisa menyampaikan secara tepat, sesuai dengan maksud, bahasa (gaya) dan karakter si lawan bicara.. Lebih dari itu, bisa jadi ia akan lebih mau menerima atau “mengiyakan” pembicaraan kita setelahnya karena kita bisa menyampaikannya sesuai dengan bahasa dan karakternya. Hal tersebut bisa muncul karena lawan bicara kita tersebut in syaa Allah akan berusaha menghargai dan me-respect­ kita, karena kita pun sudah berusaha menghargai dia selama dia bercerita).

Kemudian, setelah beberapa menit ia bercerita, ia menyampaikan, “Aku mah kak kalau udah ngeliat orang lain dan aku nyaman sama dianya, aku bisa langsung mau aja ngebuka jati diri aku, cerita tentang masa lalu aku kayak gini.. ya kalau gak nyaman mah, aku udah kasih tatapan bitchy gitu.. (yang aku pun gak tahu, maksudnya tatapan bitchy tuh yang kayak gimana wkwk. Mungkin anak-anak gaul tahu :D).”

Deg, saya agak kaget. Soalnya, heloo.. kita belum ngapa-ngapain bareng…baru papasan pertama kali ketemu, tapi Nirmala bisa langsung bilang gitu.. eh, emangnya saya udah ngapain sih? #bingungsendiri What did I do to you some minutes ago? Tapi di luar dari itu, saya tetap bersyukur. Ya, saya gak tahu kenapa dia bisa bilang sudah nyaman sama saya saat pertama ketemu, sehingga dia bisa percaya cerita tentang dirinya panjang lebar begitu. Tapi Alhamdulillah, mungkin ini pertanda baik bahwa dia bisa nyaman ke depannya saat belajar dengan saya (Aamiin 🙂 ). Walaupun, poin yang mengkhawatirkannya adalah, bagaimana kalau nanti dia ditipu orang jahat bermodus? Na’udzubillahimindzalik ya.. mudah-mudahan tidak perlu terjadi, Aamiin.

(*dan tenang saja, seminggu kemudian saya tahu hal baru, bahwa Alhamdulillah Nirmala ternyata nyaman juga dengan beberapa tentor (tutor) lain di lembaga homeschooling tersebut 🙂 Hal itu bisa terlihat saat ia bercerita panjang lebar juga dengan salah satu tentor).

Cerita terus berlanjut dan saya belum juga melihat jam. Dugaanku mungkin setengah jam sudah lewat, atau bahkan 45 menit? Hm hm.. Nah, saat Nirmala sudah agak longgar bercerita, saya mulai mencoba membuka buku dan berjalan ke arah papan tulis sambil menganggapi sedikit-sedikit sisa-sisa cerita yang masih ia lontarkan. Kemudian, saat ia mulai berhenti sejenak, saya bilang, “Yaudah yuk, kita mulai ya belajarnya..”. Dan… benar saja, Alhamdulillah, tanpa banyak penolakan, Nirmala langsung mengangguk dan menunjukkan respon gesture siap belajar.

Awalnya, saat menyampaikan pelajaran pertama kali, saya selalu khawatir saya tidak bisa menyampaikan dengan baik dan jelas (biasanya suka begitu). Salah satu penyebabnya ya karena saya kadang masih ragu terhadap pemahaman saya sendiri, apalagi fisika ini saya belajar ulang (karena background utama saya bukan fisika; 3 tahun belajar di SMA, 1 tahun belajar fisika dasar di kuliah, dan sisanya belajar sendiri). Nirmala pun terlihat tenang dan cenderung diam (gak seperti pas cerita tadi) selama pelajaran. Saya gatau sih, dia diam karena serius memperhatikan atau diam karena gak ngerti. Hehe.

Saya tetap berusaha menyampaikan versi sederhananya yang saya bisa. Kemudian, setelah 2 dari 6 submateri yang saya sampaikan hari itu selesai, saya memberanikan diri untuk bertanya, “gimana, ngerti gak? Atau agak bingung, ya, tadi? (karena memang sayanya pun saat menjelaskan sempat beberapa kali meralat penjelasan saya)”. Dan.. alhamdulillah, ternyata respon Nirmala, “enggak kok, kak. Ngerti, jelas banget. Kakak ngejelasinnya soalnya pakai perumpamaan-perumpamaan orang gitu (maksudnya ada tokohnya), sama kayak cara belajar aku.. Cocok kok, cocok..” Untuk ke sekian kalinya, saya kaget lagi.. dan bersyukur, Alhamdulillah kalau begitu. Berarti tinggal perbaikan dari diri pribadi sayanya sendiri supaya bisa lebih dalam lagi belajarnya.

Dan.. saat jam sudah menunjukkan 15 menit dari waktu kelas selesai seharusnya, saya pun menanyakan salah satu hal tentang ceritanya di awal tadi. Hihi, sebenarnya sih cuma untuk mencairkan suasana aja.. biar gak langsung kaku atau tegang lagi… ehhh.. ternyata, kembali Nirmala bercerita panjang x lebar x tinggi, hehe :D.. tapi kali ini dia izin dulu, “eh maaf ya kak, aku cerita lagi ya..”. Dan kau tahu? Ia meneruskan ceritanya, sampai kami ditegur ibu kepsek ke kelas, pun sambil jalan keluar kelas, menuruni tangga, sampai…akhirnya pintu gerbang memisahkan kita (ceilaah), barulah Nirmala selesai bercerita. Dan itu pun sebenarnya saya yakin ceritanya belum selesai hehe. Jujur, sebenarnya saya pun ingin mendengarkan ia sampai ceritanya selesai. Toh, kelas pelajaran juga sudah selesai. Tapi, ya mau gimana lagi, ia harus pulang, dan saya pun harus mengisi absen pengajar dan pulang. Huhu, semoga ceritanya bisa dilanjutkan lain kali, dan semoga semangatmu gak luntur, ya, Nirmala :).

Oh ya, dari cerita-ceritanya, ternyata benar, saya bisa ‘sedikit’ mengenal Nirmala. Pertama, anak ini pemberani; apa adanya; berkata iya bila benar, tidak bila memang salah; peka; punya attitude bagus pada orang lain dan yang lebih tua; pendidikan etikanya terbina dan terjaga dengan baik; berani membela diri bila dilecehkan; dan (Alhamdulillah walau belum berkerudung) sudah paham bagian-bagian tubuh mana yang harus ia jaga karena itu hanya akan dipersembahkan untuk suaminya kelak (she said it!); tidak mudah terpengaruh pergaulan teman-temannya (pacaran, k*ssing, dan sebagainya), dan.. yang paling menohok saya adalah…sudah paham makna komitmen, alias komitmennya kuat. Saya bisa mengetahuinya, karena ia menceritakan salah satu komitmen yang ia buat, dan saat ada orang yang bisa saja membuat ia ‘melanggarnya’, ia tidak mau, dengan alasan: bila seseorang tidak bisa memenuhi janjinya pada diri sendiri, gimana dia menuhin janji dengan orang lain???  jleb. Mengapa ini yang paling menohok saya? Ya, karena kata-kata itu dilontarkan saat saya dalam kondisi sedang mempertanyakan kelanjutan beberapa komitmen yang saya buat belakangan ini. Alhamdulillah, alhamdulillah, Allah kembali mengingatkan saya lewat cerita Nirmala. Berkat cerita tersebut, paska hari itu, saya terus berpikir-dan berpikir tentang komitmen-komitmen saya dan bagaiman menguatkan diri saya untuk melaksanakannya sesuai perjanjian yang telah saya buat sendiri. Alhamdulillah, benar ya kata beberapa orang, bahwa adanya murid/anak didik/adik mentor benar-benar bisa menjadi cermin “malu” kita. Seringkali, ketika kita melakukan hal A,B,C yang sebenarnya buruk, lalu kita ingat wah, murid kita aja bisa melakukan kebalikannya (yang baik), masa’ kita yang jadi “guru”nya malah melakukan yang buruk, maka kita akan malu. Dan bila kita sudah pernah menyampaikan kata nasihat tentang D, E, F, lalu suatu saat kita hendak melanggarnya, kita lantas akan ingat dengan perkataan yang telah kita berikan ke murid kita terebut. Walhasil, kita akan malu karena kita hampir melanggar apa yang kita larang pada murid-murid kita. Hayoloh, katanya udah jadi guru, ya konsekuensinya harus mencontohkan yang baik dong….

Doakan ya mudah-mudahan hikmah-hikmah dan pembelajaran yang saya dapatkan dari #OneStudentOneStory kali ini, edisi Nirmala, bisa saya resapi, amalkan dan…  istiqomah. Aamiin.

Oh ya, terakhir, doakan murid saya yang ingin masuk London School of Public Relation (Jakarta) ini yaaa (sekarang Nirmala kelas XII SMA). Mudah-mudahan cita-citanya tercapai, dan seiring dengan itu, semakin jadi anak yang sholehah :D. Aamiin. Dari cerita blog yang juga panjang x lebar x tinggi ini, gimana, Nirmala kelihatannya memang cocok kan jadi seorang PR? Hehe 😀

7/2/2016, 21:19.

 

Advertisements

One thought on “#OneStudentOneStory P.1: Nirmala, dan Segudang Ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s