Terimakasih, Karisma!! :)

Assalamu’alaykum sahabat 🙂

Tulisan ini mulai ditulis saat H-2 SU sampai…. hari dimana tulisan ini di-upload.

***

H-2 SU, 00.00 WIB

Alhamdulillaah, sampai saat ini, Allah masih mengizinkan saya untuk tetap berada di KARISMA ITB sampai periode 34 berakhir, in syaa Allah.

Saya gak terbayang, seandainya saya gak punya amanah lagi di periode 34 ini, akan jadi seperti apakah saya.

Malam ini saya mencoba mengingat saat-saat dulu periode 34 dimulai. Tujuh orang sahabat saya telah dititipkan amanah sebagai LT Karisma 34. Sidang Umum 34 pun berakhir. Haru dan Sedih bercampur jadi satu. Di saat semua orang berpelukan, memberi selamat dan semangat, aku ikut di dalamnya. Namun, ada perasaan aneh yang menjanggal.

Aku merasa kosong dan hampa. Ya, begitu palu diketuk, nama-nama LPMPP 34 disebutkan, seketika itu juga aku merasa kosong. Kau tahu kenapa aku merasa kosong?

Setelah berpikir beberapa menit, akhirnya aku menemukannya: karena selama ini yang mengisi hari-hariku adalah KARISMA ITB. Dan kini, saat tahun terakhir GF 31 di KARISMA, di mana (saat itu) aku tidak memegang amanah apa-apa, lalu.. aku akan melakukan apa?

Perasaan kosong itu terus menggelayutiku sampai keesokan harinya. Sampai akhirnya aku sadar suatu hal.

Aku menolak untuk menjadi LT, karena alasan keluarga dan rumah. Aku punya amanah besar di rumah, itu benar. Lalu kini, saat Allah mengizinkan ku untuk tidak menjadi LT, maka aku mengartikan bahwa Allah lebih mengizinkanku untuk menunaikan amanah di rumah ini, yang mungkin 1 periode belakang (selama menjadi kadiv) agak terbengkalai. Alhamdulillaah, Alhamdulillaah..

Namun, masih ada satu hal lagi yang mengganjal. Aku merasa sedih tidak bisa bergabung lagi dengan pasukan dakwah KARISMA ITB. Alhamdulillaah, setelah berpikir dan bermunajat lebih dalam, aku kembali diingatkan, bahwa dakwah itu luas. Dakwah adalah tugas setiap Muslim dan Muslimah bukan? LALU, apakah dakwah hanya di KARISMA ITB? Tidak adakah dakwah di rumah dan keluarga? Atau mungkin di kampusmu (bagi engkau yang aktif berdakwah di kampus)? Ada, kan… Ya, dan dari situlah, aku semakin sadar dan memahami bahwa, in syaa Allah, saya dan teman-teman seangkatan saya yang masih di KARISMA ITB 34, sama-sama bergerak di jalan Allah. Tapi, wadahnya berbeda, yang satu di KARISMA ITB, yang satu di tempat lain.

Lagi-lagi kuucapkan Alhamdulillaah, Alhamdulillaah.. karena Allah masih menitipkan kesempatan padaku untuk tetap berjuang di jalan Allah, walau dengan jalan yang berbeda dari teman-temanku yang masih berkepengurusan di KARISMA ITB.

(PS: Ingat sahabat-sahabat, jangan sampai hati kita terikat dengan organisasinya. Tapi pantaskan diri terus agar hati kita terikat sama Allah aja 🙂 ).

Setelah beberapa waktu, aku kembali berpikir.. jika aku dimintai bantuan lagi di periode ini, apakah jawabanku? Toh, aku sudah tidak menjadi LT, yang karena alasan amanah keluarga dan rumah inilah aku bersikukuh tidak menyanggupi amanah tersebut. Lalu entah mengapa, hatiku yang sudah lebih lega dan plong menggiringku untuk menjawab: ya in syaa Allah saya siap untuk menjadi membantu KARISMA 34, bila diperlukan. Terserah mau di bidang apa, dan sebagai apa..

***

Ternyata, Allah punya rencana lain..

Aku memang tidak jadi LT. Lantas kupikir aku tidak akan menjadi pengurus inti, karena keberatan amanah yang sama yang telah aku utarakan saat sidang umum 34. Kupikir aku hanya akan jadi staf saja, membantu apa yang bisa kubantu..

Ternyata, Allah punya rencana lain.. Rencana lain untuk Karisma 34, dan untuk diriku sendiri.. yang tidak ada yang mengetahui sebelumnya..

Izinkan aku bercerita sedikit tentang salah satu kegelisahanku sebelum periode 33 berakhir. Dulu, saat akhir periode 33, dengan masih mengemban amanah sebagai kadiv BKT, aku berpikir.. Periode depan, siapakah yang akan menjadi sekjen penjaringan? Kok..kayaknya gak kebayang ya.. Da kalau departemen lain mah kebayang gitu siapa yang kira2 bisa atau layak jadi penerusnya.. Tapi di penjaringan ini.. siapa ya.. Kadiv BSM 33 udah tingkat akhir, gak mungkin jadi sekjen lagi.. Kadiv Mentari juga sama..  Kadiv BKT 33 (alias saya), gak mungkin..karena saya perempuan, masa’ harus perempuan sih..  (dulu mikirnya gitu). Pikiran itu muncul karena agak khawatir akan kekosongan amanah tersebut.

Dan Hingga periode 33 berakhir, saya tidak menemukan siapa yang kira2 akan meneruskan amanah sekjen penjaringan ini..

Ternyata, rencana Allah itu..

Ya, amanah yang selama ini aku khawatirkan itu, ternyata harus aku sendiri yang mempertanggungjawabkannya, dengan mengisinya. Hiks.

Ah, ya Allah.. Ketika di awal aku ditanyakan kebersediaan oleh salah satu LPMPP akhawat, entah mengapa, di hari itu juga aku jawab bersedia, tanpa banyak pikir panjang lagi. Mungkin karena di awal tadi aku sudah bilang, in syaa Allah aku sudah siap membantu apapun di KARISMA 34, selain jadi LT (kan udah gak jadi hehe:D). Sehingga, entah mengapa aku begitu yakin untuk menjawab iya.. tapi dengan satu syarat, ketum dan yang terkait lainnya menerima kekurangan ku dalam ketidakseringan mengunjungi sekre atau hal lain yang berkaitan dengan itu, karena amanahku di rumah. Syarat itu pun diterima. Katanya, yang penting kontrolnya. Hm, hm, yaa baiklaah.. Kedengarannya agak ‘ringan’ sih. Tapi.. mari kita lihat keberjalanan ke depannya…

Seiring berjalannya waktu, banyak hal baru yang aku temui, banyak pembelajaran yang aku rasakan. Banyak pula perubahan pola pikir dan sikap yang harus aku ubah. Ya, menjadi kadep berbeda dengan menjadi kadiv. Entah mengapa kadang aku merasa menjadi lebih ­berorientasi pada tugas, daripada sumber daya manusianya. Berbeda ketika aku jadi kadiv dulu, aku memberikan porsi lebih pada pemberdayaan SDM di divisiku, sampai Alhamdulillaah, setiap anggota divisi setidaknya pernah sekali menjadi PJ dari salah satu proker divisi. Untuk poin ini, aku ingin berterimakasih pada 2 LT, 1 sahabat Faqih dan 1 sahabat Muflih yang sudah mengingatkan saya dan mau mendengarkan “curhatan” saya ttg pemberdayaan SDM ini saat di tengah semester 😀 (Maafkan ya akunya sampe baper).

Kemudian, tepat ketika memasuki tengah periode, aku mulai menyadari, betapa besarnya amanah ini. Gak se”ringan” yang saya pikirkan dulu. Departemen penjaringan, salah satu tugasnya untuk menjaring adik2 non rutin, yang ada di seluruh kota bandung. Hei, kau pikir bandung SEMPIT apa? Berapa banyak sekolah yang ada, bro, sist.. berapa kecamatannya? Hiks.. hiks.. (terus gue selama ini kemana aja gitu..).

Maka dari itu, ketika aku mulai menyadari itu, alhamdulillaah, aku mulai bekerja dengan menerapkan strategi yang lebih baik dari semester sebelumnya (mudah2an begitu, aamiin). Strategi yang melibatkan keempat divisi dengan penyebaran yang terbagi ke tiap kecamatan. Sehingga harapannya, jangkauan karisma bisa meluas, dengan cara yang paralel. Walaupun, pada akhirnya, strategi tersebut belum cukup terlaksana dengan baik.

Di titik itu juga, aku mulai bertanya-tanya, “Ya Allah, kenapa aku sih yang jadi kadep penjaringan? Aku perempuan gitu… kenapa sih gak yang ikhwan aja.. ini kan tugasnya cukup berat..”. Aku juga kadang ingin bertanya, kenapa dulu ketumnya memilih/mempercayakan penjaringan ini kepada saya. Kenapa gak kadep lain yang ikhwan aja, dah.. #eaa

Alhamdulillaah, sampai tulisan ini dibuat, Allah berkenan membantu saya menahan diri untuk tidak menanyakan hal tersebut, pun menahan diri untuk terus menanyakan maksud Allah menggariskan semua ini. Alasannya satu: saya percaya, saya akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan saya tersebut nanti, setelah saya menyelesaikan amanah ini. dan saya yakin, jawaban-Nya pasti indah :). Jadi, jalani saja dulu dengan sebaik mungkin…  (walaupun mungkin gak baik2 amat sih pada akhirnya:( ).

Oya, terkait saya sebagai akhawat. Saya mau cerita..

Di satu waktu, saya sempat gelisah beberapa lama.. gelisah, mengapa ada akhawat ditunjuk sebagai kadep.. pikir saya, itu posisi yang (menurut saya) cukup tinggi di suatu organisasi.. dan itu sendirian (tunggal), beda dengan LPMPP.. Kalau lpmpp kan satu tim, dan ya pasti ada akhawatnya, karena pembina kan gak cuma ikhwan aja.. Sampai akhirnya saya menanyakan perihal itu ke mentor LU saya. Gapapa gitu akhawat mimpin jadi kadep? Dan Alhamdulillaah, sudah dapat jawabannya hehe.

Kegelisahan itu muncul mungkin karena saya tidak terbiasa memimpin ikhwan-ikhwan. Okelah , dulu di BKT saya juga memimpin ikhwan kok.. Ya..tapi rasanya beda saat menjadi kadep. Saya harus memimpin kadiv2 (udah bukan staf lagi), yang 75% ikhwan.. Alhamdulillaah pisaaan masih ada 1 kadiv yang akhawat. Jadi kalau rapat masih ada temannya.. (Thanks to Pak ketum yang udah milih kadiv TDRnya akhawat, hehe).

Alasan yang kedua, jujurrr, saya tuh gak enak kalau harus mimpin laki2. Hm ya tapi.. baiklah, mari kita belajar~.

Yang ketiga, saya kadang kurang nyaman.. dengan kondisi departemen penjaringan..yang..ehm.. staf2 ikhwannya rada-rada, haha. Maksud dari “rada-rada” di sini adalah, ikhwan-ikhwan departemen penjaringan tuh yang rusuh2, rame2, riweuh2.. dan kadang.. suka melakukan hal yang sedikit berjenis “menggoda” kali ya, kalau ke lawan jenis (maaf kalau salah nangkep, maaf kalau agak frontal). Di situ kadang saya merasa gak nyaman, apalagi kalau kelakuan itu muncul saat saya lagi mimpin rapat. Ffuuh.. tapi baiklah saya juga minta maaf, mungkin hal itu terjadi juga karena sayanya juga masih belum benar dalam menjaga diri sebagai akhawat yang baik, santun, kalem, dan sejenisnya..  Alhamdulillaahnya, hal itu gak berlangsung cukup parah. Bersyukur, masih bisa ditegur dan mendengarkan teguran tersebut, hehe. Tapi, plis, tolong ini jadi pembelajaran ke depannya, ya, baik untuk ikhwannya maupun untuk akhawat2nya.

Di akhir kepengurusan, khususnya di kopdar, saya merasakan kenyamanan bekerjasama dengan (terutama) ring1 dan PJ-PJ kopdar. Walaupun banyak ikhwannya, entah mengapa saya nyaman dan bahagia melihat keakraban yang terjalin. Saya pun merasa, baik ke ikhwan ataupun akhawatnya, hubungan kerjasama kami berjalan layaknya teman..  walaupun kadang masih sebat sebut “siap bos, siap” (yang saya gak suka, tapi maaf banget kalau memang saya kelihatan bossyL ), tapi aku anggap itu bercandaan kalian ya..hehe..

Oke, itu tadi sedikit (eh gak sedikit ya itu mah wkwk) kisah2nya.
Pesan-pesan lain yang ingin saya bagikan di sini kepada teman-teman adalah, selalu percayalah terhadap rencana-Nya. Apapun yang terjadi dalam keberjalanan amanah ini, percayalah semua ada hikmah dan pesannya.

Sejujurnya, saya mohon maaf kepada semuanya karena di tengah2 semester, saya membuat keputusan saya akan ngekost di dekat kampus, gak tinggal lama di rumah lagi (dengan alasan pertama karena suatu hal akademik). Saya pun, gak sadar waktu membuat keputusan itu. Gak sadar kalau dulu pas SU saya menolak jadi LT karena alasan rumah tersebut, tapi ternyata sekarang saya malah pindah ngekost. Saya baru nyadar setelah saya udah pindah. Sungguh, maaf ya teman-teman..sejujurnya saya malu, karena jadi gak konsisten. Tapi ini semua memang di luar rencana awal saya.

Namun, dari situ saya kembali yakin, mungkin juga kepindahan saya ke kost ini juga sudah diatur oleh-Nya. Kita yang manusia memang cuma bisa merencanakan di awal  dan mengusahakan yang terbaik. Mungkin yang terbaik saat itu untuk saya adalah pindah kost.
Dan..  dari situ saya juga kembali yakin dan diingatkan, bagaimanapun kondisi dan keadaan saya (dan juga teman2 saya sekarang), dulu, ya, dulu saat SU palu diketuk, saat kepengurusan dibentuk, itulah keputusan dan skenario Allah, terlepas dari alasan2 yang diutarakan. Siapa yang diamanahi menjadi siapa/apa, sudah Allah tentukan. Allah yang lebih tahu siapa yang pantas dan sanggup memikulnya dengan segala kemampuan yang sudah kita pupuk dalam diri, serta dengan segala batasan-batasan yang ada di pikiran kita.

Pesan kedua, jika teman-teman dipercayakan suatu amanah di kereta dakwah ini.. jangan takut. Istighfar dan bersyukur. Percaya ada Allah bersamamu. Kuatkan ruhiyah, pacu semangat dan berusahalah agar amanah tersebut memuliakanmu, bukan menghinakan ( 😦 ).

Terakhir, sekali lagi, makasih banyak ya sahabat2, atas 4 tahun lebih dikit-nya. Di awal ketika saya masuk jurusan (tahun kedua kuliah), saya diminta Ibu saya untuk memilih fokus di satu organisasi besar saja (karena alasan tertentu; dan saat itu organisasi besar saya ada KARISMA ITB dan himpunan). Singkat cerita, saya memilih KARISMA ITB. Alhamdulillaah, saya tidak pernah menyesali keputusan saya 🙂 walaupun pastinya ada risiko dan kerugian yang saya dapatkan ketika saya tidak begitu aktif di himpunan. Namun kembali lagi, bahwa hidup ini pilihan, dan setiap pilihan pasti ada risiko dan tanggungjawabnya. So, just be brave, then choose 🙂 , Bismillaah.

Mohon maaf atas semua salah2 saya selama 4 tahun lebih dikit di KARISMA ITB. Pastiii ada banget! Maafin yaaa :”). Dan mohon maaf juga tulisan ini mungkin agak berantakan susunan dan urutannya, tapi mudah2an pesan2 yang ingin saya sampaikan, bisa dipahami oleh semua..

Semangat berjuang di KARISMA ITB Periode 35 GUYS! Luruskan niat!
Jadilah sosok-sosok yang mencintai dan dicintai pemimpin-pemimpinmu 🙂 Saling bantu, saling dukung dari dua arah. Jangan biarkan salah satu komponen saja yang mengeluarkan seluruh energinya untuk mencapai tujuan KARISMA bersama. Bersatulah dan saling bersinergi.

Bantu dan cintai pemimpin-pemimpinmu. Berkarya dan berkontribusilah dengan semangat jiwa seorang Muslim, apapun amanah/posisimu.

Doaku selalu menyertai kalian, in syaa Allah :”)

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Bandung, diselesaikan 8 Juli 2015, 23.21 PM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s