Andai Akhir Itu Telah Tiba

Mau berandai?
Bagaimana jika pada suatu malam, kau merasa ditegur keras, akan detik detik terakhir petualanganmu di dunia ini?
Ya, di suatu malam itu, kau merasakan perasaan super berdebar tiba-tiba menyerangmu. Otakmu teringat akan sederetan peristiwa yang kerapkali kau lakukan, tanpa pernah kau sadar, bahwa suatu saat, di waktu yang tak terduga, kau akan kembali, ya, kembali untuk menjadi abadi. Menuju peraduan kepada Sang Pencipta.

***
Malam itu, perasaan itu begitu kuat. Feeling mengatakan bahwa waktu untuk kembali itu, adalah SEKARANG! Ya, beberapa menit, atau bahkan detik lagi dari sekarang!
Jantungmu berdegup begitu kencang, benar-benar ketakutan! Rasa itu terlalu kuat. Kau pun berkali-kali menggelengkan kepalamu, menolak feeling tersebut. “Tidak, tidak!! Aku belum siap..! Tolong jangan sekarang, Tuhan! Sungguh, aku tak siap..”, gumammu. Bahkan air matamu pun tak kuasa kau bendung.
Tak ada siapa-siapa malam itu. Saudara-saudaramu telah terlelap dibuai mimpi. Hanya engkau seorang yang masih segar terjaga sedari sore.
Hatimu terus menolak feeling tersebut. Belum siap, belum siap, dan belum siap! Berulang kali kau ucapkan itu lirih.. berharap Tuhan menunda keberangkatanmu menuju alam abadi di seberang sana.
Semakin kuat engkau menolak, sisi hatimu yang lain membujuk. “Tidak, kawan. Kepulangan tersebut adalah suatu hal yang sudah sangat PASTI terjadi pada setiap manusia. Bila malam ini adalah waktunya, kau harus bisa menerimanya. Lebih baik kau tenang, atur napas mu yang tersengal, dan sebut nama-Nya banyak-banyak.
Kau pun tak bisa mengelak suara sisi hatimu yang satu itu. Walau sambil tetap tak percaya dan menolak feeling itu, kau berusaha untuk mulai menenangkan diri. Tidak lucu juga kan, kalau memang itu benar, lalu kau meninggal dalam keadaan meraung-raung, menolak takdir, bahkan tak menyebut nama-Nya sedikitpun.

Sambil menenangkan diri, kau berpikir. Mengapa feeling kuat tersebut bisa datang malam ini? Kau pikirkan runtutan peristiwa yang terjadi malam ini. Ya, mulai dari buku yang kau baca beberapa hari ke belakang hingga malam ini, video, cerita-cerita, entah mengapa semuanya mengingatkanmu akan waktu abadi ini. Puncaknya adalah malam ini, usai kau selesai membaca sebuah buku. Tiba-tiba saja, perasaan itu datang menggebu. Feeling itu sangat, sangat kuat memenuhi pikiran dan hatimu.

Merasa sudah mendapatkan kesimpulan akan pikiran pertamamu, kau mulai beralih ke pikiran mengganggu lainnya. Satu, satu kejanggalan yang benar-benar menjadi dinding penghalang antara ‘kerelaan’ mu untuk pergi selamanya atau tetap di dunia untuk waktu yang lebih lama. Ya, dosa itu. Dosa ‘rutinan’ yang benar-benar belum bisa kau hentikan. Walau sudah kesekian kalinya kau selalu berusaha menghentikan kelakuan itu, namun nyatanya kau belum bisa total menghentikannya. Ya, dosa yang belum sempurna taubatnya itulah, hal terbesar yang membuatmu takut menghadap-Nya. Kau yakin Tuhan bisa saja tak mau melihat wajahmu, bahkan tak mengampuni sedikitpun.
Kau kembali meringis, menangis lirih. Hati kecilmu kerap menghiburmu, “Tenang, Ia Maha Pengampun, kok..”
Ya ya ya, kau tahu betul kau sudah berusaha, tapi tetap saja kau merasa usahamu itu belum ada apa-apanya dibanding pengampunan-Nya.

“Tuhan, ampuni aku.. Tolong jangan sekarang… aku takut. Aku belum siap. Belum sempurna taubatku… maafkan aku.. :”(“

Semakin gelisah, kau bangun dari posisi tidurmu. Rasa kantuk seolah tak mampu mengalahkanmu. Percuma tidur, itu hanya akan membuatmu semakin takut. Takut ketika cahaya matahari pagi tak nampak lagi di pandangan matamu. Takut ketika napas tak mampu lagi berhembus dari hidungmu. Takut.., oh Tuhan..

Kau putuskan untuk bersuci, menghadap-Nya di sisa waktu sepertiga malam ini. Berharap, ini pertemuan terakhirmu dengan-Nya di dunia…….dan harus dilakukan sebaik mungkin..

***

Sahabat, pernahkah kau mendengar kalimat ini> bahwa orang yang bijak ialah yg gemar mengingat kematian.
Mengapa? Karena dengan mengingat kematian, kau akan berpikir ratusan kali untuk melakukan sesuatu. Apakah sesuatu itu kebaikan, atau malah akan menambah saldo dosamu?
Dan jika kau berpikir akhir itu selalu mengikutimu setiap waktu, dan akan datang di waktu yang tak terduga, kau akan terdorong untuk selalu melakukan yang terbaik yang kau bisa. Ya, karena setiap waktu adalah saat-saat terakhirmu di dunia..

Sekarang, pernahkah kau merasa seperti keadaan di cerita atas itu, sahabat?
Ah, jika belum, mari kita mohon pada-Nya agar kita bisa merasakannya.
Bukan, bukan hanya untuk sekali dalam satu malam tanpa rasa kantuk. Minta pada-Nya agar kita mampu memaknai perasaan tersebut di setiap detik hidup kita. Ya, agar kita senantiasa ingat akan akhir kita di dunia. Agar kita ingat bahwa kita tak selamanya di bumi ini. Agar kita ingat bahwa masih ada kehidupan abadi yang harus kita persiapkan sejak tangisan pertama kita terdengar di bumi ini.

Ah, Andai Akhir itu Tiba, saat ini, sudah siapkah bekal kita? :”(

#yukinstropeksi

Advertisements

4 thoughts on “Andai Akhir Itu Telah Tiba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s