KERASnya Wanita (ChallengTM#8)

[ceritanya pengantar]
Sebenarnya saya lagi gak tahu mau nulis apa. Ceritanya kan lagi diminta nulisin beberapa pengalaman besar yang pernah terjadi dalam hidup saya. Tapi cerita yang saya pilih kayaknya kepanjangan. Hehe. Mungkin diceritakan di postingan berikutnya aja, ya, in syaa Allah.

Terus mau ngapain dong saya di sini?

[mulai beneran]
Oke jadinya saya mau share aja sebuah ilmu yang saya dapatkan tepat dua minggu lalu. Mudah-mudahan bermanfaat buat teman-teman yang membacanya :).

Alkisah (ceileh, berasa dongeng ya), hari itu adalah pertemuan pertama sebuah kelas kajian tertentu di Masjid Salman ITB. Kelas apa tuuh? Hehe, itu loh yang sensitif disebutkan sama para mahasiswa/i. #Halah.

Di pertemuan itu, pembicaranya membahas tentang mengenal karakter pria dan wanita. (nah, keciri kan kelas apaan). Singkat cerita, kami sudah hampir tiba di ujung pertemuan. Dalam sesi itu, sang bapak pembicara memberikan sebuah kalimat yang kemudian menggugah pikiran saya selama ini. Rasa-rasanya baru kali ini saya sadar betul akan kebenaran kalimat tersebut. Atau sebenarnya sudah tahu, tapi lama terlupakan? Yowislah ya, apapun itu, lupa atau enggak, gak ada salahnya kita mengingat salah satu dari sekian banyak ilmu-Nya.

Ya, bapak itu bilang bahwa, “Wanita itu KERAS! Pria-lah yang LEMBUT! Serius, pria itu lebih lembut perasaannya daripada wanita.”

Saya kaget. Masa’ sih begitu? Lah yang lebih perasa kan wanita, pria kan pemikir banget, logistik gitu. (#ups, #salahfokus. Maksudnya LOGIS, bukan logistik hehe^^).

Keheranan saya itu akhirnya terjawab oleh cerita-cerita si bapak.

Contohnya nih, ya.. ujar sang bapak memulai ceritanya..

  1. Sikap Penolakan terhadap masing-masing jenis.

Wanita menolak laki-laki (KERAS kan ya): idih, gak mau, ah. Bilangin tuh, ngaca doong!

Sebaliknya (LEMBUT kan ya): Aduh, gimana ya caranya menolak yang baik. Takut melukai perasaannya –> ini berdasarkan fakta yang diutarakan dari salah satu peserta.

2. Sikap masing-masing jenis dalam menyuapi anak.

Wanita: (anaknya gak mau) >>  Eeh, ayo ayo, ma’em.. makan ya, makan.. (agak maksa nyuruh anak buka mulut, dengan berbagai cara, pokoke masuk makanannya). Termasuk kalau makanan pedas >> “udaah ayo makaan, nanti kalau dapat suami orang Padang kan harus suka makan pedeeess..” >> agak ngotot.

Laki-laki: (anaknya gak mau) >> gak maksa. Bahkan bersedia mengganti makanannya.

3. Sikap masing-masing jenis saat melakukan tawar menawar.

Wanita: nawarnya gak tanggung-tanggung, sampai turun drastis banget harganya! Bahkan ada yang sampai bilang, “Ah bang, di toko piiiip*sensor* mah GRATIS loh bang.” –> kebangetan-_-

Laki-laki: “ini berapa bang?”.. “xx ribu pak..”.. tanpa pikir panjang, langsung kasih uangnya. Gak tega juga nawarnya. Kan abangnya juga jualan, cari uang.

4. Dan lainnya (lupa euy hehe).

 

Mendengar cerita-cerita tersebut, mungkin kita mulai berpikir. “oh iya juga, sih..”

Hm hm, tapi saya tetap saja masih heran. Terus gimana dong, yang katanya tuh, wanita lebih perasa?

Akhirnya keheranan pangkat dua (hehe kan udah dua kali herannya) saya terjawab kembali oleh pernyataan sang bapak berikut ini.. (kata-kata sedikit diedit, tapi maknanya sama, in syaa Allah).

“Tapi JUSTRU karena KERAS-nya itulah, wanita ditakdirkan untuk mengandung! Coba bayangkan, kalau wanita tidak KERAS, apakah mau ia mengandung? Membawa-bawa beban sekian kilo, kemudian ketika lahir, merawatnya, bahkan membersihkan kotorannya (saya tambahin ya–>bahkan menghisap ingus anaknya yang masih bayi dengan mulutnya sendiri! #fact). Coba bayangkan, bisakah wanita melakukan itu tanpa sifat KERASnya??”

Deg!

Maa syaa Allah, Allaahu Akbar!

Maha Besar Allah yang telah menciptakan masing-masing dari kita dengan sikap dan sifat sedemikian rupa. Ya, sikap dan sifat yang spesfik dan berbeda antara perempuan dan laki-laki. Di mana masing-masing sikap tersebut, memiliki manfaat sesuai peran sejatinya di dunia.

Alhamdulillaah, memang selalu keren ya, ketika mempelajari dan menyadari fakta-fakta di balik penciptaan manusia itu 🙂

Gimana nih, buat kamu, kaum wanita? Semakin banggakah menjadi seorang wanita?

Boleh kok bangga.. 🙂 Boleh banget.. Tapi tetap harus kita ingat, sist, bahwa di balik anugerah KERASNYA WANITA tersebut, ada amanah besar yang Allah titipkan pada kita. Yaitu anak dan keluarga kita kelak. Yap, karena kita adalah madrasatul ‘ula (sekolah pertama-arab.red) atau bahasa lainnya –>  Arsitek peradaban..!

Siap jadi seorang arsitek peradaban?? Siap gak siap, harus dipersiapkan!

Yuk mari persiapkan calon Ibu-ibu 🙂 upgrade diri kita sampai akhir. Kalau kata kang @canunkamil dan teh @fufuelmart mah, because life is a  never-ending upgrading!

Eits, calon bapak-bapak juga tetap bantu membimbing sebagai qowwam ya.. We need you, of course!

Wallaahu a’lam bissh-shawaab. Semua yang salah datangnya dari saya. Kalau merasakan manfaatnya, silahkan disebar  🙂 Jazakumullaah khairan katsira.

'Keras'nya wanita justru menunjukkan kasih sayangnya.

‘Keras’nya wanita justru menunjukkan kasih sayangnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s