Turun Gunung (ChallengeTM#7)

Pernah merasa hidupmu santai-santai saja? Lurus-lurus saja? Tak ada masalah?

Ya, terus kenapa? Bukannya justru bagus ya? Kok penting banget sih harus bahas ini..

Hm, penting banget loh.. bukan cuma penting aja.. karena barangkali ada kegagalan yang sedang kau tuai dibalik ‘kelancaran’ hidupmu :).

Serem? Hmm, bisa iya, bisa tidak. Lalu apa hubungannya dengan “Turun Gunung”?

Yuk biar jelas, izinkan saya sedikit men-share pengalaman saya berikut ini.. salah satu pengalaman besar yang mengubah hidupku hingga menjadi seperti sekarang ini..

***

Oke, saya ulang lagi ya pertanyaan di atas tadi.

Pernah merasa hidupmu santai-santai saja? Lurus-lurus saja? Tak ada masalah?

Aku pernah. Ya, saat itu aku merasakan seakan-akan hidupku ini lancaaaar terus. Kondisiku baik semua, mulai dari akademik, pertemanan, keluarga, organisasi, dan sebagainya. Pokoknya hidup ini tuh gak ada hambatan!

Sampai suatu titik, justru aku merasa aneh. Kok aneh ya, orang-orang di sekelilingku kayaknya pastii ada aja masalah walau hanya sedikit. Yang sampai-sampai mereka harus menghabiskan tenaga, harta, dan air matanya untk menyelesaikan semua itu. Sedangkan aku? Kayaknya semuanya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Perasaan aneh ini aku rasakan saat aku menginjak bangku kuliah. Saat itu aku masuk ke dalam sebuah organisasi yang berisi beragam mahasiswa dari berbagai daerah, universitas, dan kondisi sosial-ekonomi. Mungkin karena itu lah, aku bisa bertemu dengan banyak orang, yang memiliki berbagai tantangan dan hambatan dalam hidupnya.

Awalnya aku tak terlalu memasalahkannya. Ketika keanehan itu muncul, aku selalu berupaya menenangkan diriku sendiri. Ah, tenanglah Al.. tidak ada keanehan sedikitpun yang terjadi. Hidupmu baik-baik saja. Kau saja yang tak bersyukur.

Ya, sepertinya memang aku yang harus lebih banyak bersyukur. Masa’ aku yang diberi lebih banyak kemudahan malah mengherankan semua kemudahan itu dan berharap mendapatkan sesuatu yang bergejolak dalam hidupku.

Aku berusaha untuk tetap tenang dan selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadaku. Walaupun, jujur di dalam hati yang terdalam, aku tetap bertanya-tanya. Adakah sesuatu yang salah dalam hidupku? Aku takut…

Singkat cerita, semua keherananku terjawab.

Dimulai dari saat aku dan beberapa temanku sedang menggelar proyek training. Ya, guru kami ‘menantang’ kami untuk mengadakan training yang kami adakan sendiri, kami rancang sendiri acaranya, kamu cari sendiri pesertanya, pokoknya belajar menggelar training sendiri! Di situlah aku mulai merasakan adanya hal-hal yang tak biasa yang hadir di kehidupanku. Aku mulai diterpa kegagalan, kesulitan, dan tantangan lain yang membuatku cukup menguras otak dan tenaga untuk menyelesaikannya.

Dimulai dari tidak adanya tempat yang available untuk dijadikan tempat trainingku. Sedangkan, teman-temanku yang lain mudah mendapatkannya. Walhasil, aku butuh tenaga ekstra untuk mendapakan tempat tersebut. Akhirnya keputusan berujung pada bahwa aku harus mengadakan training di luar komplek sekretariat unit kegiatan kami, Masjid Salman ITB.

Alhamdulillaah, banyak juga teman yang menawarkan bantuan. Ada teman dari sebuah universitas swasta di Bandung yang menawarkan salah satu kelas di kampusnya. Hmm, tapi karena lokasinya cukup jauh dari Dago, dan aku pikir tak banyak siswa SMP-SMA yang mengenalnya (karena tergetku remaja), maka kuputuskan untuk tidak mengambilnya. Kucari lagi tempat berikutnya. Kukuras otakku untuk berpikir ulang, kepada siapa aku bisa meminta bantuan. Datang lagi bantuan tawaran dari teman kuliahku, ia mengatakan bahwa salah satu ruangan di sekolahnya bisa dipakai. Tapi lagi-lagi lokasi sekolahnya yang terletak di ujung kota Bandung membuatku memutuskan untuk menolaknya baik-baik. Tawaran dari teman kuliah yang lain pun datang lagi. Kali ini sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di kota Bandung. Namun kembali kutolak, karena merasa kurang cocok dengan jadwal pemakaian yang diperbolehkan oleh sekolahnya.

Hingga akhirnya, entah bagaimana Tangan Allah menggoreskan semuanya dengan begitu indah, aku dipertemukan kembali dengan seorang teman lama. Lewat sebuah media sosial, aku mendapat kesempatan untuk bertegur sapa dengan teman SMA-ku. Ia kini sudah kuliah di Bandung. Di sebuah universitas negeri, yang punya dua cabang. Salah satu cabangnya–yang menjadi tempat kuliahnya–terletak cukup dekat dengan kampusku dan masjid Salman ITB. Cukup dekat juga dengan pusat kota seperti dago dan beberapa mal besar. Kucoba melakukan pendekatan dan obrolan singkat, apakah aku bisa meminjam ruangan di sana? Alhamdulillaah, ternyata jawabannya bisa! Bahkan aku bisa mendapatkannya cuma-cuma. Syukur, syukur, Alhamdulillaah. Waktu itu, ia mengajukan tempat yang akan kugunakan lewat BEM di fakultasnya. Oh, baik sekali temanku dan teman-temannya itu. Aku tak bisa bayangkan bila tak ada mereka. Huff, kemana lagi kucari tempat yang sesuai untuk proyek tugas ini?.. sekali lagi, Alhamdulillaah, Alhamdulillaah. Maha Besar Allah yang telah memudahkan segalanya..

Otomatis, karena tempatku yang terletak di luar komplek Masjid Salman, usaha yang harus aku dan timku keluarkan pun lebih besar. Pasalnya tempat yang dipinjamkan oleh teman-teman BEM temanku ini, memang hanya menyediakan tempat, kursi, meja dan papan tulisnya saja. Walhasil logistik, sound dan lainnya harus kami bawa sendiri. Bahkan, kami harus naik angkutan umum dulu untuk memindahkannya.

Selain hal-hal tersebut, di proyek ini Allah menarik aku untuk berusaha untuk melakukan hal lebih, yang mungkin hasilnya tidak didapatkan oleh teman seperjuanganku yang lain. Aku berusaha mencari kerjasama dengan lembaga lain agar proyek training ini lebih menarik. Alhamdulillaah, selain bekerjasama dengan BEM fakultas temanku tersebut–kalau ini memang otomatis jadi kerjasama, dan mereka pun meminta penyebaran buku informasi di dalamnya-, aku coba bekerjasama dengan salah satu lembaga bimbingan belajar softskill lewat link temanku. Alhamdulillaah, mereka bersedia memberikan voucher potongan harga sekian persen untuk peserta trainingku yang mau mengikuti seminar yang mereka adakan. Tentu sebagai timbal baliknya, mereka juga meminta space untuk promosi, sekedar dengan brosur dan X-Banner. Selain untuk proyekku, kucoba juga melobi mereka agar mau meluaskan kerjasama dengan proyek training teman-temanku yang lain. Tapi, untuk yang satu ini nyatanya aku belum diizinkan melakukannya. Maafkan aku teman-teman L…

Alhamdulillaah, proyek trainingku berjalan dengan baik dan lancar. Begitupun dengan teman-temanku. Walaupun di akhir kami mengalami kerugian, tapi itu bukan masalah. Toh ini pengalaman pertama kami. Yang penting kami bisa belajar dulu, bagaimana mengadakan sebuah training sendiri, mencari peserta sendiri, tempat, makanan, dan lainnya. Alhamdulillaah, banyak sekali pembelajaran yang bisa kami ambil dari penugasan ini.

Dan.. sejak saat itu–sampai sekarang, yang tak bisa aku ceritakan semuanya di sini–, aku mulai merasakan perubahan yang besar dalam hidupku. Ya, aku merasakan itu! Merasakan adanya gunung-gunung yang muncul di grafik lurus hidupku. Gunung-gunung itu mencuat, memunculkan sebuah irama kehidupan dalam detak hidupku. Membuat hidupku menjadi lebih dinamis dan lebih ‘hidup’! Termasuk salah satunya, Allah membimbingku untuk lebih mengenal diriku lebih dalam. Dari sana, aku bisa mengembangkan diriku sesuai dengan ‘karpet merah’nya J Alhamdulillaah, semua itu dimulai dari lonjakan kurva hidupku tadi!

Berat memang. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Ada lebih banyak pikiran dan tenaga yang harus dikeluarkan. Tapi sungguh, prosesnya begitu nikmat.

Kau tahu mengapa aku bisa bilang bahwa itu begitu nikmat?

Begini, aku coba jelaskan dengan sebuah perumpamaan.

Kau lihat gambar ini? Gambar apakah ini?

Salah satu gunung di indonesia

Ya, benar sekali! Ini adalah gambar sebuah gunung! Kau pasti sangat akrab dengannya sejak SD. Hehe. Ingat gambar yang biasanya akan langsung terlintas di otakmu saat gurumu memintamu menggambar pemandangan? Hehehe.

Lalu apa hubungannya gunung dengan cerita di atas..?

(Oh, ada dong. Judulnya aja tentang gunung.. hehe).

Begini..

Ketika kita naik gunung, pasti kita merasa ada banyak rintangan yang harus kita hdapai. Entah itu berupa bebatuan, kerikil, pohon besar, binatang buas, lumpur hidup, dan lain sebagainya. Tentu semua itu membuat kita menguras lebih banyak waktu, pikiran dan tenaga. Tapi ketika kita sudah sampai di puncaknya, apa yang kau rasakan, kawan?

Ya, kebanyakan dari kita, pasti akan merasakan suatu kepuasan dan kesenangan batin yang besar,. Senang dan bangga karena kita berhasil mengalahkan semua rintangan di bawah, dan kini bisa berdiri tegak di puncak gunung. Memandang indahnya alam ciptaan Allah dengan takjub. Menikmati sejuknya udara yang mengelilingi kita. Dan mensyukuri bahwa kita masih dititipkan kesempatan dan kemampuan untuk menyelesaikan pendakian ini.

Lalu bagaimana halnya bila kita turun gunung?

In syaa Allah, proses menuruhni gunung akan lebih mudah daripada menaikinya. Bahkan waktu yang  dibutuhkan pun lebih cepat! Rintangan yan ada juga lebih sedikit di banding menaikinya. Nyaman bukan? Ya, nyaman sekali, kita tinggal mengikuti jalan…teruuuss…sampai akhirnya kita tiba di kaki gunung.

Kawan-kawan, sesungguhnya, ketika kita merasa hidup kita baik-baik saja, lurus-lurus saja, adem-ayem saja… sejatinya, kita wajib berhati-hati. Wajib waspada. Wajib bertanya-tanya.

Mengapa?

Karena barangkali saat itu, hidupmu sedang mengalami fase TURUN GUNUNG. Di mana hidupmu terasa nyaman, mudah, leumpeung (lurus-sunda.red), dan nikmat. Padahal sesungguhnya, saat itu kau sedang menuruni sebuah gunung menuju titik TERENDAH hidupmu di bawah sana..

Justru kawan, ketika kau merasakan beberapa terjalan dalam hidup. Bersyukurlah, dan bergeraklah! Karena barangkali saat itulah hidupmu sedang mengalami fase NAIK GUNUNG. Di mana hidupmu terasa bergejolak, tak mudah, banyak rintangan. Padahal ketahuilah, bahwa saat itu kau sedang terus, terusss naik..menjalani fase demi fase kegemilangan hidupmu sampai kau tiba di puncaknya nanti. Tentunya kegemilangan itu akan kita dapat bila cara yang kau tempuh diridhoi-Nya, in syaa Allah :).

Namun, pada akhirnya, tetap saja. Apapun kondisi kita, tetaplah menjadi manusia-manusia penuh keyukuran. Yang selalu bersyukur atas segala apa yang terjadi dalam hidup kita. PEKA-lah terhadap sinyal-sinyal-Nya. Jadilah sang pembelajar seumur hidup, yang pintar mengambil hikmah demi hikmah yang tercerai berai dalam kehidupan kita. Untuk itu latihlah berpikir luas. Jangan pernah berpikir sempit. Karena luas dunia yang kita pandang adalah seluas pikiran dan hati kita. Bila pikiran kita sempit, di situ-situ aja, maka yang salah mungkin karena kita tidak meluaskan hati kita. Dan bagaimana cara untuk meluaskannya?

Pangkal dari segala pangkalnya tetap saja, kawan, mari kita dekati lagi dan lagi, terus menerus, Sang Pencipta kita :).

Wallahu a’lam bissh-shawaab. Semoga bermanfaat 🙂

-ITB Spiritual Camp @ Gedung Serba Guna, Salman ITB. 8 Maret 2014. Si aku yang masih akan terus melanjutkan perjalanan menuju puncak kemuliaan hidup, menuju keridhoan-Mu, Aamiin..

Advertisements

2 thoughts on “Turun Gunung (ChallengeTM#7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s