Terang dalam Gelap (ChallengeTM#4)

 

                Hai, namaku Si Merah. Hm, kau tahu mengapa aku diberi nama si Merah? Ya, karena warna tubuhku merah. Ah, pasaran sekali ya.. Tapi, tak apalah, setidaknya aku jadi mudah dikenali oleh kalian. Bukan begitu? 😀

Setiap hari, aku tinggal di atas sebuah meja kayu cokelat. Mejanya tak terlalu tinggi. Yah, bila kamu menggunakannya, maka kamu harus duduk bersimpuh tanpa kursi. Sudah bisa membayangkan meja ini sependek apa? Dan biasanya manusia-manusia di sekelilingku menggunakanku untuk belajar, baca buku, atau sekedar mengguntung-gunting suatu kertas untuk dijadikan sebuah karya. Biasalah, kerjaan manusia yang bersekolah. Tak jauh-jauh dari situ.

Dulu aku senang sekali, melihat setiap harinya ada manusia yang duduk di meja itu. Menekan tombol dua angka di bagian kakiku. Dengan begitu, aku bisa membantunya melihat benda-benda di sekelilingnya. Mungkin kalau aku tak ada, ia sudah panik. Panik karena tak bisa melihat semuanya dengan jelas. Yaah, gagal deh nanti ngerjain tugasnya, hehe.

Ya, aku senang sekali, bahkan kadangkala ia tetap membiarkan posisi di tombol kakiku itu sepanjang malam. Aku terus membantu penglihatannya sampai ia tertidur, pindah ke kasur yang terlatak tak jauh dari meja ini. Ketika pagi menjelang, tak jarang ia panik terburu-buru membereskan semua barangnya. Hihi, kamu telat, ya? Yah, yang penting jangan lupa, ya, tolong kembalikan lagi tombol di kakiku ini ke posisinya semula. Supaya manusia yang melahirkanmu tidak perlu stres karena harus membayar lebih besar atas daya listrik yang kupakai.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Banyak sekali perubahan di ruangan ini. Dimulai dari kasur yang ada di dekatku. Kasur ini kini tak lagi berbaring seperti biasanya. Ia kini berdiri tegak. Berdiri dan bersandar di pagar-pagar kayu. Tapi sepertinya ia tidak bebas. Ya, karena ia diikat kuat oleh seutas tali ke pagar-pagar tersebut. Ah, bergeser pun ia tak bsia.

Hanya satu yang tak berubah sebenarnya. Yang daritadi belum sempat aku ceritakan padamu. Debu. Ya, debu di ruangan ini tak berubah. Daridulu, semenjak masih ada manusia yang rajin bertandang ke sini. Debu di ruangan ini cukup tebal. Walaupun manusia itu sudah rajin menyapunya setiap hari, itu tak berefek. Sepertinya sudah terlambat. Debu yang sudah tertahan sejak beberapa tahun sebelumnya, tak semudah itu dibersihkan. Mungkin itu yang menyebabkan setiap manusia bertandang ke sini, hidungnya tak kuat menahan air dan lendir di dalamnya. Pasti keluar diiringi suara khas dari mulut mereka, hachih, begitu kira-kira bunyinya. Ah, kasihan sekali mereka.

Lantas aku berpikir, apakah itu yang membuat manusia yang biasa datang ke sini tak lagi datang? Ia tak lagi tidur di sini. Tak lagi sering belajar di atas meja ini.. Apakah karena itu? Ya.. bisa jadi..

Aku agak bersedih. Kondisi ini seperti memberitahuku bahwa kesempatanku untuk lebih bermanfaat sudah berkurang.

Hei, tapi manusia itu bukan berarti menghilang sama sekali. Tenang kawan, ia masih suka ada di sini. Bahkan ia masih tinggal di bangunan ini. Hanya saja, intensitas kunjungannya tak sesering dulu. Ya, ia hanya berkunjung, tidak tinggal atau menetap. Kenapa ia masih mau berkunjung? Ya, karena hampir semua barang-barangnya masih ia tinggal di sini. Dari mulai buku-buku pelajaran, tas, bahkan pakaiannya. Ia datang ke sini ketika ia mau mengambilnya, atau ketika ia membereskan barang-barang keperluan sekolahnya. Selain itu? Ia turun ke lantai bawah. Seringkali ia bawa buku-buku pelajarannya ke bawah. Oh sepertinya ia memilih belajar di bawah. Baiklah, tak apa.. Setidaknya masih ada yang sering ‘mengunjungiku’.

Hari-hari terus berlalu. Keadaan tak banyak berubah. Hanya saja.., karena ruangan ini sudah jarang ditempati.., huff.. entahlah, aku merasa hawanya berbeda. Ruangan ini menjadi lebih dingin, dan.. gelap.. Apalagi kini aku adalah satu-satunya alat yang bisa membantu penglihatan manusia di ruangan ini. Alat sejenis yang biasanya tertempel di langit-langit atap, sudah tak bisa menyala lagi. Walaupun manusia itu masih suka menekan tombol di ujung ruangan, sambil menatap penuh harap pada sang alat di langit-langit. Ah, aku yakin ia hanya iseng. Karena ia pasti tahu bahwa itu tak akan bekerja.

Aku semakin kedinginan di sini. Kedinginan dan sendiri. Intensitasnya di ruangan ini semakin berkurang. Walaupun ia tetap selalu menekan tombol di kakiku ini setiap malam. Kemudian mengembalikannya ke posisi semula ketika pagi menjelang. Ia lakukan itu sebelum akhirnya ia turun kembali ke bawah, membawa tas dan perlengkapan lainnya. Ah, kau pasti mau pergi ke sekolah. Selamat jalan, ya. Hati-hati..

Begitu seterusnya, tiap menjelang malam ia datang. Meletakkan tas dan barang-barangnya, menekan tombol di kakiku, membawa beberapa barang, dan turun lagi ke lantai bawah. Aku yang menerangi tempat di sekelilingku ditinggal sendiri. Sendiri menghabiskan sisa malam ini. Gelap. Dingin. Dingin dan menusuk. Sampai ia kembali di pagi hari hanya untuk mengembalikan posisi tombol di kakiku dan berangkat sekolah.

Kini ia sudah beranjak dewasa. Namun keadaan masih tak berubah. Ah, tidakkah ia merasa bahwa aku ini kesepian? Aku si penerang dalam gelapnya ruangan ini. Ah, kontras bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s