Senyum Seminggu (ChallengeTM#3)

Mentari mulai menyusup malu melalui teralis-teralis jendela.  Sinarnya tepat menerpa wajah kuningku. Seperti biasa, aku tergeletak di atas laci biru majikanku. Melakukan kegiatan rutinku, yaitu mengamati majikanku.

Hari ini hari Senin. Layaknya hari-hari sebelumnya, majikanku sudah pergi sejak pukul enam pagi. Sudah semalaman aku tertempel di tirai berwarna krem itu sampai majikanku melepaskanku, membuka tirai kamar dan meletakkanku di atas laci biru ini.

Waktu berlalu begitu cepat, mentari mulai bersiap kembali ke peraduannya. Jarum pendek jam di dinding seberangku mengarah ke angka enam. Posisiku pun sudah berubah. Aku tidak lagi berada di atas laci biru, tetapi sudah tertempel di tirai krem, seperti biasa. Ya, sebentar lagi ia datang. Seperti biasa, dengan menggendong tas biru kesayangannya.

Krieeet.

                Tepat pukul enam lebih sepuluh menit, ia masuk ke dalam kamar 4 x 3 meter ini. Wajahnya tak berubah. Selalu cantik. Tapi, hei.. tunggu sebentar, sepertinya ada yang berubah kali ini. Wajah putih cantiknya terlihat mendung. Tak ada satu suara pun yang keluar dari bibir tipisnya.

Ia letakkan tas di meja belajar pendek di sebelah kiri kamar dan langsung duduk terpaku di ujung kanan kasur. Sekarang ia tepat berada di sebelah kanan laci biru, tempat aku berdiam diri sepanjang siang tadi. Cukup lama ia termenung. Datar, tanpa ekspresi. Seakan-akan ada beban berat yang tak mampu lagi ia pikul. Aku tentu tak tahu harus melakukan apa. Kalapun tahu, aku pun tak bisa melakukan apa-apa.

Sepanjang sisa hari ini, yang ia lakukan hanya duduk diam termenung di ujung kasur, dan sholat. Sesekali ia keluar kamar mengunjungi keluarganya. Aku pun mendengar candaan dan tawa kecilnya. Tapi aku yakin majikanku hanya berakting di depan mereka, menyembunyikan masalah–entah apa–yang sedang direnunginya. Faktanya, begitu ia kembali ke kamar, kondisinya kembali seperti sediakala. Duduk diam termenung di ujung kasur sampai ia tak kuat lagi. Wajah mendung yang sudah tak tahan untuk mengeluarkan rintik-rintik air, menemani tidurnya malam itu.

Keesokan harinya, selepas shubuh ia langsung bersiap dan bergegas pergi seperti biasa. Walau aku tak pernah tahu kemana tujuannya, ia selalu bersemangat untuk pergi. Tapi tidak untuk hari ini, ia tampak tak bersemangat untuk pergi. Bahkan ia lupa melepaskanku dari tirai krem ini.

Kondisinya tidak berubah saat ia sudah kembali berada di kamar. Ia habiskan–lagi–sisa hari itu dengan duduk termenung di ujung kasur. Oh, majikanku. Ada apa denganmu? Apakah aku tidak cukup menginspirasimu dengan wajahku yang selalu tersenyum ini? Oh bukan.. atau.. Apakah kau tak mau memenuhi ajakanku untuk selalu tersenyum bersamaku?

Dan malam pun berakhir, masih dengan mendung di wajahnya.

***

Hari ketiga tiba, dan ia masih lupa untuk membuka tirai krem ini. Posisiku belum berubah sejak hari kemarin. Itu berarti sudah dua hari kamar ini tak mendapat siraman sinar matahari.

Sore harinya, aku bersyukur karena ia tak melakukan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Kupikir keadaannya sudah membaik. Namun ternyata, yang  ia lakukan malah lebih buruk. Kini, ia termenung di pojok kasur. Diam dan memeluk lututnya seperrti anak kecil yang kedinginan dan ketakutan. Ia terus terpaku sampai malam mencapai gelap maksimalnya. Bahkan ia tertidur dalam keadaan seperti itu.

Ah, sungguh, aku khawatir terhadapnya.

Aku yang terus terjaga pun berusaha terus mengamatinya. Begitu jarum pendek jam menunjuk angka 3, tubuhnya bergerak. Ia luruskan kakinya, dan mengubah posisi tubuhnya. Ia tertelungkup di atas kasur. Tubuhnya baru bangun ketika adzan shubuh berkumandang.

Dengan tetap diam, ia bersiap-siap pergi sambil membereskan kamarnya. Termasuk melepaskan daya magnetku yang melekatkan tirai ke tiang kayu di tengah tirai. Tiraipun terbuka dan aku dipindahkan ke atas laci biru. Seketika ia memandang wajahku yang selalu tersenyum. Aku terkejut. Cukup lama ia memandangku. Tapi aku tak berhasil menangkap maksudnya. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum. Senyum termanis yang pernah kulihat. Oh, apakah kini ia terinspirasi dari senyumku?

Hari keempat ia akhiri dengan cukup tenang. Walaupun mendung di wajahnya belum hilang. Ia tetap diam seperti hari-hari kemarin. Satu hal yang kusyukuri, ia sudah mau melakukan banyak aktifitas. Kulihat ia membereskan meja, kasur, lemari sebelum akhirnya, tertidur pulas.

Hari kelima, rutinitas pagi kembali ia lakukan. Aku senang karena ia tak lupa melepasku dari tirai. Namun, wajahnya tetap diam, mendung, dan tanpa senyum. Bahkan ia tak melihatku seperti kemarin. Hm, sepertinya ia agak terburu-buru. Yah, tak apalah.

***

BRAK!

Sore hari yang juga mendung, semendung wajahnya. Ia masuk, diam, menggebrak pintu, dan menangis sesenggukan. Ia duduk di ujung kasur, melempar tas gendong birunya dan terus menangis sepanjang malam. Bahkan hampir tak tertidur.

Hari keenam. Ketika shubuh menjelang, ia membuka tirai ini sekenanya, bahkan aku terlempar ke lantai. Cukup sakit, walau wajahku tetap tersenyum seperti biasa.

Malam di hari keenam, ia kembali menangis semalaman. Namun, sambil menangis ia menulis sesuatu di buku agendanya. Entah apa yang ia tulis. Tapi yang kutahu ia terus menulis dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Hingga langit semakin menggelap dan matanya semakin sembab, ia tetap bertahan. Yang kutahu, ia hanya tidur selama lima belas menit sampai terbangun kembali pukul tiga pagi.

Pagi hari di hari ketujuh. Ia buka tirai ini, menatapku dan tersenyum cukup lama. Senyumnya penuh arti. Hei, majikanku, apakah kau sudah mendapatkan pencerahan di hari ketujuh ini?

Pukul lima lebih empat puluh lima menit sore, tak seperti biasanya, ia sudah datang. Hari ini wajahnya lebih cerah dari biasanya. Ia sudah bisa tersenyum bahkan tertawa asli bersama anggota keluarganya. Ia tersenyum sambil bersenandung. Ia buka laptopnya dan asyik mengetik. Yang berbeda lagi, ia membawa seorang teman untuk menginap bersama. Mereka menghabiskan malam itu dengan asyik bekerja di depan laptop dan mengobrol bersama. Namun aku tak mampu mendengar pembicaraan mereka. Mereka mengobrol sangat pelan dan cukup jauh, di seberang dinding.

Pagi hari di hari kedelapan, ia membuka tirai ini dan meletakkanku di atas laci biru. Ia tersenyum dan tiba-tiba mengeluarkan seplastik magnet sepertiku. Ia keluarkan beberapa buah magnet berwajah senyum, tertawa, dan ekspresi ceria lainnya. Wah rupanya aku mendapatkan banyak teman baru. Sekarang, akan lebih banyak ekspresi ceria di kamar ini J.

Aku pun melepas kepergian majikanku dan temannya dengan hati yang berbunga-bunga. Selamat beraktifitas majikanku! Aku yakin kau akan mendapatkan banyak hal menyenangkan hari ini. Tentu saja itu karena kau sudah memulai hari kedelapan ini dengan penuh senyuman J. Sekali lagi, Selamat!

Pukul lima lewat tiga puluh sore, tiba-tiba aku menjadi sangat bersemangat. Ya, aku menunggunya dengan penuh semangat! Aku senang, karena senyum di wajahku ini bermanfaat untuknya, setidaknya untuk semingguan ini.

Tak kupedulikan teman-teman baruku yang tampak heran melihat tingkahku. Ah biar saja, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi seminggu kemarin.

Dua jam berlalu, tapi majikanku belum juga pulang. Ah, ada apa ini? Kemana ia pergi? Teman-teman baruku yang lain juga keheranan. Aneh sekali ia belum pulang? Atau jangan-jangan ia menginap di rumah temannya?

Keheranan kami terus berlanjut hingga langit semakin gelap, bahkan hingga terang mulai menjelang. Majikan kami belum juga pulang.

Oh, ternyata, hari ini ia memang tidak pulang.

***

Aku berusaha tenang dan terus bersabar. Apa mungkin majikanku sedang ada acara menginap yang cukup lama di luar sana? Buktinya di hari kesembilan ini, ia tak kunjung datang. Dan ternyata itu berlanjut sampai hari kesepuluh.

Siang hari di hari kesepuluh, aku dan teman-teman baruku yang masih diliputi keheranan, dikagetkan oleh pintu kamar yang terbuka. Ah, ternyata bukan ia yang masuk, tapi keluarganya. Entah mungkin ayah atau ibunya. Yang jelas, ia masuk dan membereskan semua barang-barang majikanku. Bahkan ia melepas sprei dan sarung bantal di kasur majikanku. Keherananku makin menjadi-jadi. Apa yang  sedang ia lakukan? Biasanya, tidak pernah orang lain masuk dan membereskan kamar ini seperti itu. Hanya majikanku yang membereskan seluruh isi kamar ini, semuanya.

***

Hari keduapuluh.

Keadaan tidak berubah. Kamar ini seolah menjadi sunyi. Diam. Tak bernyawa. Ditinggal oleh penghuninya. Mungkin untuk selamanya? Ah, entahlah aku tak tahu dan sudah tak mau tahu. Yang ku tahu, hanya lah sebuah fakta bahwa goresan hitam yang selalu melengkung ke atas di wajahku ini perlahan mulai terkikis. Garis hitam itu kini menjadi sebuah garis lurus. Tak ada lagi senyuman yang selalu terpampang di wajahku, sekalipun untuk tujuh hari lamanya, seperti waktu ia masih di sini.

Ekspresi wajahku telah berubah. Begitupun teman-teman baruku.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s