Belajar Tanpa Batas (ChallengeTM#6)

Jum’at sore merupakan jadwal kelas percakapan bahasa arab percakapan di Masjid Salman ITB. Kurang lebih sebulan sudah aku bergabung dengan mereka. Tertatih-tatih belajar bahasa arab. Kau tahu kenapa tertatih-tatih? Ya, karena tiap kali masuk kelas, aku pasti selalu telat. Pasalnya, sebelum jam mulai kelas selalu mepet dengan jadwal kuliah dan praktikumku. Tapi tak apalah, sekalipun aku hanya bisa masuk setengah jam, yang penting aku tahu hari itu di kelas belajar apa. Karena kuyakin tak ada sedikit ilmu pun yang sia-sia. Pasti ada yang akan kudapatkan, walau di tiga puluh menit terakhir.

Bicara tentang teman-teman sekelasku, mereka ini terdiri dari berbagai lapisan usia. Ada yang SMA (sepengamatanku sih, soalnya kelihatan paling kecil dan muda hehe), sampai yang sudah kerja, bahkan ibu rumah tangga! Tapi, yang paling mencengangkanku adalah, masih ada (maaf) ibu lansia! Ya, Ibu ini sudah punya cucu, kawan! Jujur, aku baru melihatnya hari itu. Itu pun karena aku duduk di sebelahnya.

Selama pelajaran, Ibu ini sangat antusias mengikuti arahan ustadz dan menuliskan apa-apa yang dituliskan ustadz di papan tulis. Aku kagum sekali. Namun, apa daya, karena penglihatan dan pendengaran yang sudah berkurang, acapkali beliau menanyakan padaku tentang, “Itu apa?”, “Huruf apa sih, itu, neng?”, “Apa tadi neng, kata ustadznya?”.

Mendengarnya bertanya seperti itu, perasaanku berdesir. Ya Allah, aku gak tega melihat Ibu ini harus seperti itu terus saat belajar bahasa Arab. Mengejar ketinggalan, ketika peserta yang lain sudah lebih bisa, dan ustadznya mulai lanjut ke pembahasan berikutnya. Bahkan Ibu itu sendiri yang bilang, “Kayak ketinggalan kereta ya, neng, Ibu mah..hehe.” Huff, miris juga..

Sampai akhirnya, aku beranikan diri untuk menanyakan sesuatu. “Ibu, ikut les ini keinginan sendiri, Bu?”

“Iya.. Ibu kan ikut pengajian di rumah. Terus jadi pengen belajar bahasa Arab. Ya biar bisa makin ngerti gitu, hehe,” ujarnya dengan wajah senang. “Ya mumpung masih ada umur, neng,” lanjutnya yang membuatku semakin jleb!

                Keren! Keren banget ada Ibu lansia seumur beliau yang masih semangat belajar bahasa Arab. Kau tahu kan, bahasa Arab itu level kesulitannya cukup tinggi. Terlebih lagi karena tulisannya yang tidak seperti tulisan latin yang sedang kau baca sekarang ini.

Akhirnya, setiap kali Ibu itu bertanya padaku, kusodorkan buku catatanku, “Ini Bu, pinjam punya saya aja..” (Semoga tulisan saya kebaca ya, Bu, hehehe). Pun ketika saya harus izin pergi ke toilet, saya tawarkan bukuku untuk dipinjam oleh sang Ibu. Alhamdulillaah, Ibu itu menerimanya, “Oh iya iya, nuhun ya, neng..,” ucapnya sambil tersenyum senang. Aku pun tak kalah senang mendengar sambutannya.

Ketika tiba saatnya kami mempraktekkan materi percapakan hari itu, kami melakukannya berpasangan. Kami belajar untuk belajar bersama. Senaang sekali, bisa berbagi dan membantu sang Ibu mengucapkan kata demi kata yang ia ucapkan. Pun ketika Ibu salah menyebutkan jawaban dari pertanyaan percakapan (karena Ibu ini menuliskan pertanyaan dan jawabannya tidak dalam satu baris yang sama, hehe, jadi rada pusing), kami sama-sama berusaha membenarkannya. Ibunya pun sangaat kooperatif dan memang memiliki kesungguhan untuk belajar. Tak lupa di akhir latihan kami, aku berikan apresiasi pada sang Ibu yang sudah lancar mengucapkannya. Kebahagiaanku bertambah ketika melihat sang Ibu turut tertawa senang. “Alhamdulillaah. Makasih ya, neng, ya..

Di akhir pelajaran, aku yang masih terkagum dengan sang Ibu, tak pergi begitu saja. Aku pamit kepada beliau. Tak lupa kami saling bertukar nama. Ah, tak sabar rasanya menunggu pertemuan selanjutnya, melihat senyum di wajah Ibu yang masih memiliki semangat belajar tanpa batas itu.

Alhamdulillaah, sampai sekarang, setiap kita bertemu di kelas, kami masih saling bertegur sapa. Kadang Ibu itu bertanya, “Eh eneng, tadi ke mana?”. “Ada kok, Bu, di belakang hehe..” jawabku malu-malu.

Selain muncul kekagumanku pada semangat beliau, rasanya diri ini seperti ditegur. Ditegur karena seringkali masih malas dalam belajar.. Ya Allah, maafkan aku yang tak bersyukur sudah dititipkan nikmat lebih di usia semuda ini. Nikmat berupa kesempatan untuk bisa belajar sejak masih muda (walaupun kalau kata teman-teman di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya mah, saya teh termasuk yang sudah ‘tua’, hahaha). Mudah-mudahan kesadaran ini tidak terlambat sama sekali.

Yuk, kita-kita yang masih muda beneran, atau yang merasa muda, atau yang berjiwa muda (hehe), upgrade terus semangat kita dalam belajar. Jangan kalah sama sang Ibu ya.. Malu, loh, hehe. Selagi masih diberi, eh, salah, dititipkan (semuanya hanya titipan kan ya?hehe) kesempatan, mari sama-sama kita manfaatkan sebaik mungkin! Siaaap? (In syaa Allah ya:) ).

Satu harapan lainku, semoga akan muncul lebih banyak lagi ibu dan bapak lansia yang masih semangat belajar, walau usia sudah hampir mencapai ujungnya. Karena belajar itu..tanpa batas 🙂

PS: Cuma mau nitip saran untuk teman-teman yang sedang atau akan mengelola kursus bahasa atau kursus belajar apapun. Bila ada peserta yang sudah lansia, mungkin belajarnya bisa dipisahkan. Tentu penyampaiannya pun dibedakan dengan yang masih SMA, kuliah atau kerja. Mudah-mudahan bisa lebih efektif, efisien, dan memudahkan pihak-pihak yang belajarnya. In syaa Allah :).

Aliya, 8 Maret 2014.
@azahira.

Image

Contoh kata tanya dalam pelajaran percakapan bahasa arab. sumber: http://www.arabicgenie.com/wp-content/uploads/2013/05/arabic-question-words-featured.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s