Aku dan Butiran Debu (#ChallengeTM1)

Butiran debu.

Pernahkah kau mendengar dua kata tersebut? Kalaupun kau menggeleng, kurasa kau pasti pernah mendengarnya secara tidak sadar. Entah dari sayup-sayup radio di angkutan umum atau tempat umum lainnya, atau dari senandung kecil teman-teman di sekelilingmu.

Ehm, tapi butiran debu kali ini bukan sebuah suara yang bisa ditangkap oleh indera pendengaranmu. Butiran debu kali ini adalah butiran debu sungguhan. Melekat, memeluk erat tubuhku. Seolah berusaha melindungiku dari udara, cahaya, atau mungkin uap air tak diundang yang bisa jadi merusakku.

Aku dan butiran debu. Hanya berdua, di pojok sebelah kanan ruangan 4×3 meter ini. Tersembunyi di balik deretan gantungan baju-baju indah milik sang pemilik kamar yang sebenarnya. Yang kini ia tengah menjalani hidup di kota lain. Huf, yah, letakku yang tersembunyi itu membuatku seolah tak terlihat dan tak bisa terjamah lagi, sekalipun oleh penghuni rumah di luar kamar ini.

Kira-kira setahun yang lalu aku masih bisa menghirup udara segar di sekitarku. Aku mampu berjalan dengan gagahnya, dibantu empat roda hitam di kakiku, tanpa butiran debu yang melekat memelukku saat ini. Ah, rindu. Rindu saat-saat itu. Masih teringat jelas di ingatanku, aku tampil di depan umum, melewati puluhan, bahkan ratusan manusia yang lalu lalang di sekitarku. Dan… Hei, kau harus tahu, bahwa aku selalu tampil ceria. Warna hijau terang dan merah benderang menjadi tameng di bagian muka dan punggungku. Sedangkan warna biru yang elegan melapisi bagian sampingku. Menengahi warna hijau dan merah dari tamengku tersebut. Ah, kerennya diriku kala itu.

Tapi kini, yah, seperti yang kukatakan tadi, aku hanya bisa diam termangu, dipeluk erat oleh butiran debu. Tak terlihat, tak terjamah, hampir terlupakan. Pemutar tiga digit angka yang menjadi pintu gerbang untuk membuka tubuhku pun mungkin sudah berkarat dan sulit untuk digerakkan. Ah, aku jadi takut, jangan-jangan aku bahkan sudah tidak bisa dibuka dan digunakan lagi??

Barang-barang kecil yang berada di bagian dalam sakuku pun sudah gerah sejak berbulan yang lalu. Mereka meronta-ronta agar pintu gerbangku ini segera terbuka. Ya, mereka meronta-ronta layaknya seorang bayi yang menendang-nendang perut ibunya, lantaran ingin segera melihat dunia. Bedanya, barang-barang inI lebih menginginkan menghirup udara segar daripada melihat indahnya dunia. Toh, kalaupun mereka dibuka dan mereka bisa keluar, pandangan mereka terbatas hanya pada lingkungan ruangan yang terdekat dengan mereka. Jarang sekali mereka bisa melihat dunia luar secara luas seperti yang bisa kulakukan.

Kawan, jikalau saja aku bisa menjatuhkan diriku ke lantai, mencari perhatian penghuni rumah yang lain, akan kulakukan itu sejak dulu.. Tapi posisiku yang terhalang tiang gantungan baju indah tadi, menafikkan keinginanku tersebut.

Seolah menjadi yang paling berkuasa, dengan gagah dan tegaknya ia selalu setia berdiri di hadapanku. Seakan-akan melarangku untuk membuat suara kegaduhan di rumah ini.

Kini aku tetap di sini, sendiri bersama butiran debu. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanya menunggu. Menunggu sampai salah satu penghuni rumah ini-atau mungkin pemilik kamar ini-datang menjemputku, menarikku keluar dari kungkungan gantungan baju ini, mengelap bersih tubuhku, memutar pemutar angka yang mungkin sudah berkarat ini, membuka pintu gerbangku dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tubuhku. Barang-barang yang nantinya akan menjadi amanahku. Kan kujaga dan kubawa kemana pun sang penghuni membawaku. Keliling kota, atau bahkan dunia pasti kulakoni. Karena itulah pekerjaan muliaku, sang koper warna-warni.

Ah.. Tapi, hingga saat ini., sepertinya aku akan tetap bersama butiran debu ini. Tak apalah. Biar kutemani butiran debu ini, sebagai tanda terimakasihku. Ya, tanda terimakasih karena selama ini telah melindungiku sesuatu yang bisa merusakku. Kan kutemani kau wahai temanku, sang butiran debu, sampai tiba saatnya nanti seseorang akan membersihkan tubuhku darimu…

Advertisements

3 thoughts on “Aku dan Butiran Debu (#ChallengeTM1)

  1. Saya agak terganggu dengan kalimat ini:
    “..tapi butiran debu kali ini bukan sebuah suara yang bisa ditangkap oleh indera pendengaranmu..”

    Ini maksudnya lagu “butiran debu”, ya? Kalau iya, deskripsinya kurang pas, dan saya bisa menebaknya karena kebetulan tahu lagunya. Bagaimana kalau tulisan ini dibaca 10 tahun lagi?
    Mungkin ini bisa jadi pembanding:

    ..tapi butiran debu kali ini bukan “butiran debu” yang didendangkan ke telingamu..

    Saya membayangkan ending-nya yang lebih aduhai:
    Bagaimana kalau ditonjolkan kesedihan si koper yang akan berpisah dan kehilangan pelukan butir-butir debu itu?

    1. iya mas.. maksudnya lagu itu..
      oiya betul juga ya mas (y).

      bisa2 mas, makasih banyak sarannyaa 🙂 in syaa Allah dicoba..
      oiya mas oddie, yang seleksi cerpen itu masih bisa? yg di blog mas oddie?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s